Horor Takokak, Sepenggal Sejarah Yang Terlupakan

0
397

CIANJUR, patas.id – Selama lebih dari tiga jam, seratusan orang mendengarkan cerita keji di balik keindahan alam di Puncak Bungah, Gunung Cadas, Kecamatan Takokak dalam agenda seminar di Aula Mapolres Cianjur, Sabtu (12 November 2016).

“Horor Takokak, Sepenggal Sejarah yang Terlupakan” adalah tema dalam kegiatan seminar dan diskusi yang digagas oleh komunitas sejarah De Brings Tjiandjoer bersama Cianjur Creative Network dan Historika Indonesia. Sebagai suguhan pembuka salam kegiatan tersebut, diputar film dokumenter selama 23 menit, dengan cerita dari para saksi
tentang kisah tragis di Kecamatan Takokak.

Sejarawan Anhar Gonggong dan Hendi Jo, jurnalis di Majalah Historia dan peneliti senior di Historika, bergantian menjelaskan peristiwa Horor Takokak yang terjadi pada kurun 1947-1949, saat Belanda kembali menyerbu Indonesia lantaran tak mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia.

Berdasar kisah yang diceritakan Hendi Jo, Puncak Bungah yang sunyi dan sulit terjangkau dijadikan sebagai lokasi pengeksekusian pejuang dan tokoh intelektual Indonesia. Mereka dibawa satu per satu menggunakan truk lalu dipaksa berjalan menyusuri jalan setapak ke tengah hutan di Gunung Cadas untuk menjemput kematian.

“Setelah di tempat eksekusi, militer khusus Belanda mengeksekusi mereka dengan menempatkan ujung laras tepat di mulut. Sehingga dengan sekali tembak dan dengan satu peluru, tawanan perang itu mati.”

Tak terhitung berapa banyak pejuang dan tokoh intelektual yang tewas di Puncak Bungah, mungkin seratus atau bahkan lebih dari tiga ratus. Pasalnya belum ada penggalian kembali seluruh wilayah di sekitaran titik penggalian pertama. Namun diduga ada titik lain yang menjadi lokasi eksekusi di sana.

“Di taman makam pahlawan di sana ada sekitar 68 makam, namun diperkirakan masih ada tulang-tulang lain yang belum ditemukan.”

Sementara itu Iljas Humaedi (78 tahun), saksi sejarah Takokak, mengungkapkan bahwa ayah dan tiga orang pamannya merupakan korban dari tragedi kejahatan perang di Takokak. Diceritakan bahwa pada 1948, ayahnya dan pamannya yang merupakan tokoh agama dibawa oleh tentara Belanda dari Sagaranten Kabupaten Sukabumi.

“Ketika dibawa dan tidak pulang lagi, saya berpikir kalau ayah dan paman-paman saya sudah meninggal oleh Belanda. Dan mereka bukan pejuang, tapi hanya ulama. Bahkan paman saya baru pulang dari pesantren.”

Selama beberapa tahun Iljas mencari keberadaan ayah dan pamannya. Baru pada 1985, para veteran perang melakukan pencarian tulang para korban kekejaman Belanda di Takokak. Pada saat itu, Iljas mencoba menjadi relawan untuk mencari tahu, apakah ayahnya ada di sana atau tidak.

“Saat membongkar salah satu titik, ada tulang yang saya duga kuat adalah ayah saya. Sebab perawakannya jangkung dan ada pakaian yang sering digunakan ayah saya.”

Sejarawan Anhar Gonggong menjelaskan, kekejaman militer khusus Belanda yang dikenal sebagai tentara baret hijau di bawah komando Raymond Pierre Paul Westerling terjadi di banyak tempat, termasuk di Sulawesi Selatan pada operasi 2 Maret 1947.

Setiap kampung didatangi dan warganya dikumpulkan di pinggir suatu lubang yang merupakan makam mereka setelah dieksekusi. Setiap orang dewasa ditembak jatuh ke lubang tersebut jika tak mau menjawab siapa tokoh pergerakan di desa tersebut. “Ayah, kakak, dan keluarga saya juga menjadi korban dalam kekejamannya. Dan peristiwa Takokak juga merupakan salah satu dari banyak bukti pelanggaran HAM oleh militer Belanda,” ucapnya. (isl)

Comments

comments