Budaya Ngaos Tidak Perlu Menuai Perdebatan

0
307

CIANJUR – Budaya Ngaos menjadi pilar budaya yang menuai perdebatan. Pasalnya makna ngaos sebenarnya ‎secara luas masih belum disepakati. Jika digunakan dalam makna sempit, ngaos adalah mengaji Al-Quran, maka akan dinilai diskriminatif terhadap penganut agama lain. Apalagi jika Ngaos ditetapkan menjadi Peraturan Daerah.

Namun, berdasarkan penuturan Sejarawan Cianjur, Pepet Johar, pemaknaan ngaos dalam tiga pilar budaya bisa bersifat luas. Tidak hanya terpaku pada mengaji Al-Quran‎.

“Kalau dulu kan mayoritas (penduduk, red) di Cianjur beragama Islam dan begitu kental ajarannya. Belum lagi kegiatan di setiap wilayah itu mengaji Al-Quran di setiap masjid atau madrasah. ‎Tapi kalau dikaitkan dengan kondisi sekarang tentunya bermakna luas, tidak lagi sempit,” kata dia.

Menurutnya, Ngaos juga bisa diartikan mengaji diri atau memahami tujuan dan perilaku diri sendiri. Hal itu pun selaras dengan konsep ngaos untuk menjadikan pribadi Cianjur yang lebih berakhlakul karimah dan berkualitas.

“Pada dasarnya bisa mengaji diri, memahami ilmu agama dan ilmu di bidang lainnya. Ngaji itu kan bukan berarti ngaji‎ Al-Quran, tapi juga memahami isinya. Sama saja dengan kita belajar. Makna ngaos bisa sangat luas.”

Pepet menambahkan, jika dalam pembuatan Perbup nantinya pemaknaan Ngaos diperluas untuk merangkul seluruh golongan dan agama, tidak akan jadi masalah. Apalagi Indonesia merupakan negara yang menjunjung toleransi dan kebhinekaan.

“Sah-sah saja, yang penting filosofi di dalamnya dijabarkan secara jelas. Dan kami harap Ngaos ini bisa merangkul semua pihak dan tidak bersifat diskriminatif, untuk perkembangan Cianjur dengan budayanya yang kaya,” tandas Pepet. (isl)

Comments

comments