Inilah Bukti Ilmiah Mengapa Kita Tak Boleh Membunuh Laba-laba

0
321
Spider with Hopper in web

PATAS.ID – Laba-laba yang sering membuat orang jijik ternyata memiliki peran penting dalam keseimbangan alam dengan kemampuannya sebagai predator pembunuh sekitar 800 juta ton hama dan serangga setiap tahun.

Pakar biologi Martin Nyffeler dari Universitas Basel (Swiss) dan Klaus Birkhofer dari Universitas Lund (Swedia) melakukan penelitian dan menganalisa data mengenai seberapa banyak hama dan serangga yang dikonsumsi oleh laba-laba setiap tahunnya. Hasilnya, mereka membuktikan bahwa laba-laba merupakan musuh alami serangga dan hama. Dengan kata lain, ekosistem alami bumi terjaga berkat kehadiran laba-laba.

Kedua pakar biologi dari universitas terkemuka dunia tersebut terlebih dahulu menghitung seberapa banyak populasi laba-laba dunia dengan mempelajari bioma atau lingkungan hidup dimana laba-laba berada seperti hutan, ladang, gurun, rumah, dan wilayah lainnya. Hasilnya, mereka memperkirakan bahwa terdapat sekitar 25 juta ton laba-laba di bumi saat ini.

Berangkat dari berat populasi laba-laba ini, mereka kemudian memperkirakan konsumsi laba-laba setiap tahunnya. Hasilnya mencengangkan. Populasi predator bertubuh kecil tersebut ternyata mengonsumsi sekitar 400-800 juta ton serangga dan hama di dunia seperti kelabang, lalat, kalajengking kecil, dan lain-lain. Berat konsumsi laba-laba tersebut setara dengan berat 85 juta gajah.

Sebagai perbandingan, seluruh populasi umat manusia diperkirakan mengonsumsi 440 juta ton daging dan ikan setiap tahunnya. Sementara ikan paus mengonsumsi 300-550 juta ton makanan laut setiap tahunnya. Menurut Nyffeler yang telah menghabiskan waktu selama 40 tahun mempelajari laba-laba, tanpa laba-laba dunia akan dipenuhi serangga dan hama kurang lebih hingga setinggi pinggang.

Dengan konsumsi hama dan serangga sebesar itu, tidak diragukan lagi bahwa laba-laba memegang peranan penting dalam habitat alami bumi sekaligus menguntungkan secara ekonomi karena mereka memangsa hama dan binatang penyebar penyakit dalam habitat mereka. Martin Nyffeler dan Klaus Birkhofer mempublikasikan penemuan penting ini dalam jurnal bergengsi Eropa, The Science of Nature.

‚ÄĚKami harap perkiraan jumlah konsumsi hama dan peran laba-laba dalam penelitian ini bisa meningkatkan keperdulian dan penghargaan publik akan pentingnya laba-laba dalam jaring-jaring konsumsi dunia.”

Dalam Islam, jauh sebelum penelitian Martin Nyffeler dan Klaus Birkhofer dilakukan, laba-laba termasuk binatang yang tidak boleh dibunuh karena jasanya menyelamatkan Nabi Muhammad SAW saat bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraisy di Gua Tsur ditemani sahabat sejatinya Abu Bakar. Saking istimewanya binatang kecil ini, Allah SWT menjadikannya nama surat dalam Al-Qur’an, yakni QS Al-Ankabut. (cho)

Comments

comments