Jawadah Cibeber Berkibar di Mancanegara

0
626

PATAS.ID – Di tengah serbuan penganan mancanegara yang terbuat dari bahan-bahan olahan pabrik dengan tampilan yang cantik, salah satu makanan tradisional khas Cianjur tetap berkibar dan diminati, bahkan banyak dipesan hingga mancanegara.

Jawadah namanya. Penganan tradisional yang berbahan dasar gula merah ini sudah jarang disuguhkan ke atas meja, bahkan kalah pamor di hajatan tradisional. Meski begitu, patas.id menemukan beberapa orang pembuat jawadah yang ada di Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur.

Ma I’ah (60 tahun), adalah salah satu pembuat jawadah tertua di desa tersebut. Saat ditemui menjelang Idul Fitri, I’ah nampak tengah sibuk melayani pembeli di teras rumahnya yang rindang sementara dari arah dapur, tercium bau harum jawadah setengah matang yang dengan ulet diaduk oleh Dede (39 tahun), anak kedua I’ah.

Menurut pengakuan I’ah, membuat jawadah adalah tradisi keluarganya sejak dulu. Sebelumnya, nenek dan ibu I’ah adalah pembuat jawadah kahot di Desa Cimanggu. Namun, I’ah yang sering membantu ibunya sejak kecil baru membuat jawadah sendiri 23 tahun lalu. Selain jawadah, I’ah juga melayani pembuatan wajit kacang serta gegeplak.

Berkat usahanya, I’ah mengaku rejekinya lancar, cukup untuk membesarkan keluarga dengan 4 orang anak, bahu membahu membangun perekonomian keluarga bersama suaminya yang dulu bekerja sebagai buruh perusahaan ijuk.

“Pesanan jawadah¬†gak pernah berkurang, pas hari Idul Fitri juga masih ngejual. Malah makin lama makin kewalahan karena umur sudah tua, sering pegal-pegal, padahal pesanan banyak. Anak-anak terpaksa dikerahkan untuk membantu.”

Meski anak-anaknya bersedia membantu jika diminta, I’ah khawatir pekerjaannya tak bisa diwariskan karena anak-anaknya nampak tak tertarik dengan bisnis jawadah. Penyebabnya tentu saja, karena membuat jawadah bukanlah pekerjaan ringan dan bisa makan waktu berhari-hari, tergantung cuaca.

Proses pembuatan jawadah dimulai dengan mencampurkan bahan-bahan dasar kelapa, gula merah, dan tepung beras. Ketiga bahan tersebut harus diaduk di atas tungku selama berjam-jam hingga mencapai tingkat kekentalan tertentu. Setelah didinginkan, jawadah kemudian dimasukkan ke dalam cetakan loyang lalu dijemur hingga kering.

“Kalau musim kemarau mah enak, bisa dijemur sehari langsung kelar, tinggal dipotong dan dibungkus. Tapi jika musim hujan, Ema kadang menolak pesanan karena hasilnya pasti gak memuaskan.”

Saat ini, jawadah Ma I’ah tidak saja dipesan oleh warga sekitar. Ma I’ah menuturkan bahwa jawadahnya banyak dipesan oleh warga kota Bandung, Jakarta, bahkan Saudi Arabia. Tak hanya itu, bisnis membuat jawadah pun mulai dilirik warga sekitar yang juga ikut membuat dan menjual jawadah. Untuk itu, I’ah mengaku bersyukur.

“Alhamdulillah, pesanan jadi terbantu. Rejeki mah Allah yang mengatur, semua punya jalan.”

Lalu apa keistimewaan jawadah? Yeti Siti (64 tahun), salah seorang pelanggan jawadah I’ah dari Bandung, mengaku membeli jawadah karena rasanya yang unik, kering di luar namun empuk di bagian dalam, seperti agar-agar. “Cocok untuk orang tua, serta sehat karena bahan-bahannya alami,”ujarnya.

Sementara itu Asep Regal (39 tahun), warga Bojongherang Cianjur, mengatakan bahwa dirinya kehilangan jawadah.

“Jawadah adalah makanan saya sejak kecil. Tapi sekarang sudah jarang ada yang menjual.”

Jawadah sudah jarang dijual karena proses pembuatannya yang berat, memang. Namun di tengah-tengah kencangnya derasnya pengaruh kuliner luar, I’ah yang mulai renta melaju memperkenalkan tradisi kuliner Cianjur ke luar kota, bahkan ke mancanagara. Semoga kuliner tradisional Cianjur¬†ini tak hilang tergerus jaman. (edj)

 

Comments

comments