Sejarah Kopi Cianjur Di Jaman Kolonial (Bagian 1)

0
433
still life with coffee beans and old coffee mill on the wooden background

CIANJUR, patas.id – Menurut sejarah, kopi pertama kali ditemukan di Kefa atau Kaffa (Ethiopia) dan menyebar di Semenanjung Arab pada sekitar abad ke-15. Berkat para pedagang Arab, kopi perlahan-lahan dikenal hingga India, Asia Tenggara, serta Eropa.

Karena merupakan barang langka, kopi berharga mahal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan di Eropa. Dengan potensi keuntungan yang luar biasa, Belanda melihat peluang untuk mulai menanam kopi di wilayah jajahan mereka.

Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) telah dibentuk tahun 1602. Namun, Belanda baru bisa menanam kopi di wilayah kolonial pada 1658, saat Portugis berhasil diusir dari Srilanka. Panen kopi Malabar berhasil. Mulai tahun 1663, kapal-kapal dagang Belanda hilir mudik dari pesisir Malabar (Srilanka) menuju Amsterdam.

Atas perintah Nicolaas Witsen, Gubernur East India Company saat itu, Pimpinan Perkebunan Malabar Adrian Van Ommen mengirimkan bibit kopi Arabika pertama ke Jawa pada tahun 1696. Sayangnya, banjir besar menghancurkan generasi tanaman kopi pertama yang baru ditanam di wilayah Kedawung (sekarang Pondok Kopi, Jakarta, red) tersebut. Tahun 1699, Malabar mengirimkan bibit kopi Arabika kedua yang kemudian tumbuh subur dan menghasilkan panen yang luar biasa karena ditanam di dataran tinggi sekitar Jakarta, termasuk di Cianjur.

kopi-cianjur2
Lukisan Franz Schams, berjudul “Das Erste (Kulczycki’sche) Kaffee Haus” yang menggambarkan suasana sebuah kedai kopi di Wina, Austria.

Pengiriman pertama kopi Jawa ke Belanda dilakukan tahun 1711 sebanyak 894 pon atau setara 405 kilogram. Bupati Cianjur menyetor sebanyak hampir 100 pon (45 kilogram). Belanda membeli kopi tersebut dengan harga 50 gulden per pikul (satu pikul kurang lebih 56 kilogram). Dalam lelang kopi di Belanda, kopi Jawa tersebut terjual dengan harga jauh lebih tinggi karena kualitasnya dinilai sangat baik. Dengan melihat keuntungan besar, Belanda kemudian mulai membuka banyak perkebunan-perkebunan kopi di Priangan.

Dalam artikelnya, “Coffee for Cash: The Dutch East India Company and the Expansion of Coffee Cultivation in Java. Ambon and Ceylon l700-l730“, Gerrit J. Knaap mengungkap bahwa budidaya kopi meluas dengan cepat di Batavia dan wilayah dataran tinggi Priangan. Pada tahun 1720-an, VOC menjadi penyalur 3/4 kopi dunia dan dari jumlah tersebut, setengahnya berasal dari Priangan Barat atau Kabupaten Cianjur. Tercatat pada tahun 1723, terdapat lebih dari sejuta pohon kopi di Cianjur. Pada tahun 1752, sebanyak 1.264 ton kopi berlayar menuju Amsterdam.

Pada saat itu di Priangan atau Tanah Sunda, masyarakat hidup dengan cara berhuma. Mereka membuka ladang untuk menanam padi, lalu berpindah tempat setelah tanah mereka tak subur lagi, untuk membuka ladang baru. Siklus tersebut telah dilakukan selama ribuan tahun. Terkadang para peladang tersebut kembali ke ladang lama mereka yang telah subur kembali setelah ditinggalkan. Singkatnya, masyarakat Sunda umumnya adalah masyarakat nomaden, berpindah-pindah tempat.

VOC menganggap pola hidup orang Sunda tidak sesuai dengan rencana monopoli kopi mereka. Selain itu, pada awalnya banyak petani kopi Priangan yang menjual panen mereka pada pedagang Arab atau Cina. Didorong kerakusan, dengan meminjam tangan para menak yang diiming-imingi pembagian keuntungan, VOC memaksakan sistem Cultuurstelsel atau Tanam Paksa.

Peraturan VOC ini dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan 20% tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi. Hasil panen harus dijual kepada Belanda dengan harga yang sudah ditentukan. Para petani kopi pun dilarang menjual hasil panen pada pedagang lain. Tak hanya itu, penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun di kebun-kebun milik pemerintah, yang menjadi semacam pajak keringat.

Dengan sistem keji ini, VOC kemudian memonopoli perdagangan kopi dunia. Kopi Jawa saat itu sangat tekenal di Eropa, sehingga orang-orang Eropa menyebutnya dengan “secangkir Jawa”. Sampai pertengahan abad ke-19, Kopi Jawa menjadi kopi terbaik di dunia dengan jumlah produksi luar biasa berkat diberlakukannya Tanam Paksa. Tahun 1830–1834, impor kopi Jawa mencapai 26.600 ton ke Eropa, dan 30 tahun kemudian meningkat menjadi 79.600 ton dan puncaknya tahun 1880 -1884 mencapai 94.400 ton. Belanda, tak diragukan lagi, meraup keuntungan luar biasa besar. (cho)

Comments

comments