Citarum Meluap, Warga Mulai Diungsikan

0
252

CIANJUR, patas.id – Luapan Sungai Citarum mulai mengikis bantaran sungai. Hal itu terjadi lantaran dibukanya pintu air bendungan Saguling dan curah hujan yang sangat tinggi. Akibatnya, sejumlah warga pun mulai diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Asep Suparman, mengatakan, tingginya arus air selama pembukaan pintu air Saguling membuat bantaran sungai selebar 1 meter terkikis, dan luapannya kini sudah mencapai beberapa rumah warga. “Pengikisan sudah ada. Pada waktu-waktu tertentu beberapa rumah warga juga mulai digenangi air meski ketinggiannya hanya beberapa centimeter.”

Menurut Asep, sejak Sabtu (12 November 2016) tujuh keluarga sudah diungsikan ke rumah tetangga atau kerabatnya yang berada di zona aman. Jika kondisi air terus meluap, maka pihaknya akan kembali mengungsikan lebih banyak keluarga.

“Sekarang ketika pintu air dibuka ditandai dengan sirine. Arus air meningkat 15 menit setelahnya. Jika ada tanda tersebut segera tim kami mengevakuasi warga ke tempat aman karena dikhawatirkan luapannya meninggi.”

Meski belum menimbulkan kerusakan dan korban jiwa, namun menurutnya, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. “Anggota yang diterjunkan ke sana kini berjumlah sembilan orang dari yang semula hanya enam orang. Kami harap tak ada dampak besar dengan dibukanya pintu air tersebut,” tuturnya.

Camat Haurwangi, Djadjat Sudrajat mengatakan, pihaknya telah melokalisir akses jalan tersebut sebagai zona bahaya.

“Sudah tidak bisa dilalui, sudah zona bahaya, kita terus kordinasi dengan pihak perusahaan dari PLTA dan pemerintah daerah, karena kondisi ini khawatir mengancam pemukiman penduduk.”

Djadjat menyebutkan, hingga saat ini belum ada informasi atau keputusan terkait kapan Pintu Air 1 Bentungan Saguling akan kembali ditutup, karena kebijakan tersebut, kata dia, ditempuh sebagai dampak meningginya debit air di bendungan.

“SOP-nya memang demikian, kami tidak bisa menuntut pihak bendungan untuk menutup. Ini semua kan karena kondisi curah hujan yang tinggi di kawasan Bandung dan sekitarnya. Jadi kita semua yang di sini sebagai pihak terdampak saja,” katanya.

Meski begitu, pihaknya berharap kondisi cuaca di kawasan Bandung bisa mendukung penutupan kembali Pintu Air 1 yang dikelola PLTA Saguling, sehingga luapan air yang mengalir di Sungai Citarum tidak sampai masuk ke pemukiman penduduk.

“Ada ribuan jiwa yang tinggal di empat Desa yang terancam di Haurwangi. Terutama warga yang tinggal di bantaran-bantaran sungai.”

Sementara Kapolsek Bojongpicung, AKP Ajat Sudrajat mengatakan, kepolisian terus meningkatkan pengamanan di lokasi-lokasi terdampak luapan Sungai Citarum. Pihaknya bersama pemerintah daerah, baik dari kecamatan maupun desa, dan pihak perusahaan dari PLTA terus memantau pergerakan luapatan sungai tersebut.

“Ada sekitar 400 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di Desa Cihea yang terancam dengan kondisi seperti ini. Karenanya kami sejak beberapa hati lalu dan ke depan sudah siaga,” ucapnya. (isl)

Comments

comments