Angkutan Umum Akan Diganti Bus Tiga Perempat

0
249

CIANJUR, patas.com – Dinas Perhubungan Kabupaten Cianjur menyatakan jumlah angkutan umum (Angkum) di wilayah perkotaan dinilai ‎terlalu banyak. Padahal jumlah penumpang tidak sebanding, dan volume angkum yang tinggi juga mengakibatkan kemacetan.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Cianjur, ‎Djoni Rozali, menuturkan bahwa jumlah angkutan umum di wilayah perkotaan mencapai 4.000 unit. Jumlah tersebut dinilai terlalu banyak untuk ukuran wilayah perkotaan yang tidak luas. “Memang tidak sebanding, sementara jumlah penumpang hanya seberapa persennya.”

Menurut Djoni, jumlah angkutan dan penumpang yang tidak sebanding juga terlihat dengan seringnya ‎angkum di Cianjur mangkal sembarangan dengan waktu yang cukup lama. Akibatnya kemacetan terjadi di sejumlah ruas jalan. “Makanya kami mengeluarkan kebijakan untuk tidak ada penambahan armada angkum. Bahkan trayek baru pun hanya pengalihan dari angkum di trayek lainnya,” tegasnya.

Djoni menambahkan, ke depan Dishub merencanakan untuk membuat transportasi khusus di dalam kota, yakni bus dengan ukuran tiga per empat. Bahkan bus tersebut akan digratiskan bagi warga, supaya penggunaan kendaraan pribadi bekerkurang dan minat warga menggunakan transportasi umum, meningkat.

“Itu keinginan kami, tapi tentunya perlu proses. Jadi angkum itu trayeknya di seputaran lingkar luar perkotaan. Di dalam kota, penumpang pakai bus khusus seperti Damri atau bus Bandros di Bandung. Bus tersebut nantinya tersedia gratis.”

Djoni mengakui bahwa jika rencana tersebut direalisasikan, akan menimbulkan reaksi dari sopir angkum, tetapi hal itu dibuat untuk kepentingan umum. “Kalau demi kepentingan bersama dan banyak pihak kenapa tidak? Reaksi akan selalu ada, tapi ini merupakan wacana yang positif,” tandasnya.

Di tempat yang berbeda, salah seorang sopir angkum 06A, Nuryansyah (25 tahun), mengakui bahwa jumlah angkutan umum saat ini memang terlalu banyak. Dibandingkan enam tahun lalu, penghasilannya saat ini menjadi menurun. Jika semula dalam sehari paling sedikit dia bisa meraup penghasilan bersih sebesar Rp 50 ribu, saat ini Nuryansah hanya bisa membawa pulang Rp 20 ribu per hari.
“Memang terlalu banyak. Penghasilan jadi minim karena saingan angkum banyak. Penghasilan saya juga terus berkurang,” keluhnya. Namun, terkait rencana dibuatkannya transportasi khusus di wilayah perkotaan, dirinya menolak sebab akan mematikan banyak sopir angkum di Cianjur.
“Kalau dibuat seperti itu, bakal yang kehilangan pekerjaan. Itu menyudutkan kami selaku sopir angkum. Kalau mau, bikin solusi lain tanpa mematikan sopir angkum. Keluarga mau makan apa kalau tidak narik angkum nantinya?”
Sementara itu, Nova Rahardian (21 tahun), warga Cianjur, sangat setuju jika ada angkutan gratis di wilayah perkotaan. Selama ini, menurutnya, dia menggunakan sepeda motor lantaran untuk sampai ke kampung mesti naik beberapa trayek angkum dan ongkos yang dikeluarkan cukup banyak. “Kalau ada yang gratis pasti setuju. Tapi yang penting nyaman, jangan seadanya,” ungkap dia. (isl)

Comments

comments