Pentas Teater dan Kaulinan Urang Lembur Sarat Makna

0
200

CIANJUR, patas.id – ‎Sejumlah anak nampak memainkan kaulinan urang lembur atau permainan khas Sunda, mulai dari gasing, egrang, ulin samping, dan congklak. Lagu-lagu anak Sunda juga dinyanyikan oleh mereka. Musik calung, angkung, dan kecapi mengiringi mereka bermain.

Namun‎ ketenangan dan kebahagiaan itu sontak hilang ketika seorang raja datang dengan penuh keangkuhan dan meledek mereka yang sedang anteng memainkan permainan tradisional. Tidak hanya itu, sang raja juga meminta orangtua mereka untuk menaikkan upeti dari setiap hasil panen.

Merasa keberatan, ‎warga pun memprotes permintaan tersebut. Namun apa daya, mereka yang lemah tak mampu berbuat apa-apa. Sang raja lalim yang merasa memiliki suara tetap menerapkan kebijakannya tanpa memikirkan rakyatnya.

Tetapi setelah itu, Sang Raja dihantui oleh pembisik yang adalah suara hati mereka sendiri, hingga akhirnya dia sakit oleh pikirannya sendiri dan jatuh pingsan.

Begitulah cuplikan cerita dalam pertunjukan yang digelar oleh Bumi Manusia Foundation dan Baraya Anjang-anjangan di gedung Kantor Dewan Kesenian Cianjur pada Jum’at (13 Oktober).

Founder Bumi Manusia, Ebi Wijaya‎, mengatakan, pertunjukan teater ini berisikan pesan moral penting agar orang Sunda tidak melupakan budaya dan tradisi mereka, termasuk permainan khas daerah.

“‎Ini mengenalkan lagi permainan tradisional yang pada dasarnya tak kalah menyenangkan dari permainan modern.”

Pentas teater ini juga mengajarkan hakikat kepemimpinan dimana seorang raja atau pemimpin harus bersikap bijaksana, tidak boleh bertindak seenaknya, tidak boleh memberatkan rakyat.

“Pemimpin kudu nyaah ka nu leutik, nyaangan ka nu poek, nganteur ka nu borangan. Itu juga menjadi pesan kepada pemimpin Cianjur saat ini yang memiliki semangat muda, untuk bisa melindungi dan mensejahterakan rakyatnya,” pungkas Ebi. (isl)

Comments

comments