Selain Bangunan yang Rusak, Guru Sekolah Anisa tak Sejahtera

0
249

CIANJUR, patas.id – Di balik ‎kondisi sekolah yang rusak dan tidak layak, para guru MI Cipelah 2 di Kampung Cipelah Desa Girimukti Kecamatan Pasirkuda Kabupaten Cianjur juga hidup jauh dari sejahtera.

Kepala MI Cipelah 2, Aisah, mengatakan, di sekolah tersebut terdapat lima orang guru kelas. Parahnya lagi, tak ada satupun guru yang berstatus PNS, semuanya merupakan guru honorer.

“Dari jumlah guru sudah kurang, jadinya saya juga ikut mengajar. Jadi pekerjaan ganda, mengurus administrasi dan sekolah, serta mengurus pendidikan siswa kelas I. Tidak ada yang PNS, semua honorer, bahkan ada yang sudah puluhan tahun belum kunjung diangkat, sampai mendekati masa pensiun,” kata dia, Minggu (11 Desember 2016).

Status tersebut membuat para guru hanya bergantung pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk mendapatkan upah dari jasanya.

Menurut Aisah, para guru hanya diupah Rp 350 sampai Rp 500 ribu per bulan. Uang itupun dibayarkan selama tiga bulan sekali, sesuai dengan pencairan dana tersebut.

“Pada 2015 lalu dana bos sempat tertunda selama 9 bulan. Para guru sudah pasrah tak ada penghasilan untuk mereka, sampai mau membubarkan diri dan berhenti mengajar. Tapi saya coba kuatkan mereka, alhamdulillah cair juga dan sekolah terus berjalan,” kata dia.

Menurutnya, upah dengan nilai tersebut jauh dari cukup. Apalagi untuk guru yang telah berkeluarga, uang sebesar Rp 500 ribu per bulan akan habis untuk operasional, mulai dari bensin dan lainnya, sehingga untuk kebutuhan hidup hanya tersisa sedikit.

Bahkan, ungkap dia, salah seorang guru yakni Herman, harus menjadi tukang ojek barang serta berjualan gorengan ke setiap warung untuk menambah penghasilannya demi menghidupi keluarga.

“Dia tinggal di wilayah Bandung, 1,5 jam dari kampung ini karena memang berbatasan. Ongkos operasional habis Rp 300 per bulan, untuk anak-anaknya Rp 100 ribu sebulan. Sehingga dalam memenuhi kebutuhan hidup seperti makan, sebulan dia hanya punya Rp 100 ribu. Apakah cukup uang segitu? Apalagi untuk yang telah berkeluarga?” kata dia.

Meski demikian, lanjut Aisah, para guru tetap bertekad untuk mencerdaskan anak-anak di tiga kampung di sekitar sekolah tersebut. Sambil mengajar mereka berharap adanya bantuan dari pemerintah, serta kesejahteraan.

“Kami tak mengharapkan tanda jasa, tapi tetap realistis dimana hidup ‎memerlukan penghasilan yang layak. Kami hanya ingin diperhatikan meskipun status kami honorer,” tuturnya.

‎Diberitakan sebelumnya, MI Cipelah memiliki tiga bangunan yang suah rusak parah. Atapnya sudah bocor bahkan di satu ruangan tak ada atap. Para siswa pun belajar di bawah kehawatiran jika kelasnya akan roboh. Tak ada bantuan dari pemerintah, hanya swadaya warga seadanya yang menguatkan sekolah dengan 122 siswa itu tetap berdiri.(isl)

Comments

comments