Sekolah Anisa Butuh Bantuan

0
316

CIANJUR, patas.id – Anisa (12), siswa kelas VI MI Cipelah 2 Desa Girimukti Kecamatan Pasirkuda Kabupaten Cianjur, terpaksa harus menceritakan kondisi sekolahnya yang rusak parah. Dia bercerita di laman Rumah Zakat tentang kondisi kegiatan belajar mengajar di sekolahnya.

“Namaku Anisa (12), sekarang aku kelas enam di MI Cipelah 2 Desa Girimukti Kecamatan Pasirkuda Kabupaten Cianjur. Aku selalu semangat sekolah, karena bisa bertemu dengan teman-teman, belajar dan bermain bersama. Tapi, beginilah kondisi sekolah kami saat ini. Banyak dinding dan atap yang bolong.”

Itulah yang diungkapkan anak manis dalam situs Rumah Zakat, belum lama ini. Ya memang begitu kondisi sekolah tiga kampung di Desa Girimukti, tepatnya yang berada di sekitar MI Cipelah 2.

Sekolah yang sudah berdiri sejak 1953 itu memiliki lima kelas. Namun tiga dari lima kelas yang ada, bukan hanya bocor melainkan memang sudah tak ada lagi genting di atasnya. Kaca kelas tak ada, dan temboknya pun sebagian sudah diganti dengan bilik bambu yang kini juga mulai bolong.

“Saya semangat sekolah, tapi kurang nyaman kalau kondisinya seperti ini. Kalau hujan pasti harus neduh atau pindah ke madrasah. Tapi kalau sudah besar dan sukses ingin bantu juga sekolah ini diperbaiki supaya nanti adik Anisa sekolah dengan nyaman,” ucap siswi tersebut saat ditemui, Sabtu (10 Desember 2016).

Untuk bisa sampai ke sekolah tersebut, butuh perjuangan yang keras. Meskipun jaraknya hanya 5 kilometer dari desa, tapi medan yang terjal membuat waktu tempuhnya bisa mencapai 1 jam. Dari Cianjur kota membutuhkan waktu sekitar 4,5 jam dengan jarak tempuh 80 kilometer.

Tanjakan dan turunan yang curam pun menjadi suguhan bagi mereka yang datang ke SD tersebut. Tak jarang ban slip lantaran cengkraman ke bebatuan saat menanjak tak kuat. Hujan yang turun akan menambah ekstrem jalur menuju sekolah itu.

Meski begitu, pemandangan alam yang indah, yakni beberapa air terjun termasuk Curug Citambur disuguhkan saat perjalanan. Sayangnya sarana pendidikan bagi siswa di Kampung Cipelah tidak seindah pemandangan selayaknya surga tersebut.

Kepala MI Cipelah 2, Aisah, mengatakan, kondisi tiga ruang kelas tersebut sudah rusak sejak 16 tahun lalu. Meskipun sempat direnovasi pada 2014, namun hanya seadanya, itupun dari hasil iuran orangtua siswa.

“Dengan dana sebesar Rp 2,2 juta kami renovasi seadanya. Alhamdulillah salah satu dari tiga kelas yang rusak parah bisa digunakan, walau tetap jauh dari kata layak,” kata dia.

Dia mengungkapkan, sekolah yang memiliki 122 siswa tersebut saat ini memiliki lima ruangan, dengan dua ruangan baru dari yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pada 1990 silam.

“Tetap saja sekarang yang dua ruangan tersebut sudah mulai rusak. Itu juga dibagi-bagi ruangannya atau disekat. Dua ruangan dibagi empat, tiga kelas dan satu ruang guru. Pasti tak nyaman, tapi mau bagaimana lagi,” kata dia.

Ketika hujan turun, lanjut dia, siswa yang belajar di bangunan rusak terpaksa dialihkan ke bangunan madrasah yang berdekatan dengan sekolah tersebut.

“Kalau ada angin saya sering khawatir, takut roboh. Inginnya ada bantuan yang membuat seluruh bangunan jadi bagus lagi, supaya anak-anak nyaman belajar,” tuturnya.(isl)

Comments

comments