Pencurian Merugikan Peternak Ikan Jangari 12 Miliar Per Tahun

0
277

CIANJUR – Pencurian ikan di jaring terapung Waduk Jangari, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kian sering terjadi dan merugikan para peternak ikan. Bahkan, maraknya pencurian membuat kerugian peternak ditaksir mencapai 12 miliar rupiah per tahun. Sayangnnya hingga kini, para pencuri yang diduga telah membentuk jaringan khusus tersebut belum terungkap.

Salah seorang peternak ikan di jaring terapung Jangari, US (40 tahun), mengatakan bahwa aksi pencurian di Jangari sudah terjadi sejak lama, namun setahun terakhir semakin marak. Bahkan dalam sehari, dua sampai tiga jaring dijarah. Akibatnya 6 sampai 12 kuintal ikan hilang setiap hari.

“Setiap hari pasti ada yang kecurian, saya sendiri dalam sebulan minimal 10 kali jadi korban pencurian,” ujar US, Minggu (4 September).

Hilangnnya 6 kuintal ikan, lanjut US, sangat merugikan peternak. Pasalnya, dari satu jaring terapung peternak biasanya mendapatkan 2 ton ikan, dengan hasil perjualan mencapai 40 juta rupiah apabila harga ikan normal di angka 20 ribu rupiah per kilogram. Jika dicuri 6 kuintal, maka penghasilan petani bisa hilang hingga 12 juta rupiah.

“Modal kami bisa sampai Rp 35 juta dari mulai penangkaran sampai panen, kalau keuntungan 40 juta berarti untung hanya 5 juta. Namun jika dicuri, paling hanya menghasilkan uang 28 juta, untuk modal saja tidak tertutup. Makanya tidak jarang petani bangkrut sekarang ini.”

US mungungkapkan, para pencuri ikan ini sudah membentuk jaringan khusus, dengan komplotan berbeda. Namun belum diketahui di mana para pencuri ikan menaikkan muatan hasil curiannya. “Informasi ada asbak (penadah, red) tapi tidak tahu di mana,” katanya.

Para peternak sering melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian setempat, namun tidak adanya tindak lanjut dari pihak kepolisian membuat peternak mulai bosan dan enggan melapor. Bahkan, penangkapan dua orang pelaku pencurian pada Sabtu (3 September) lalu, ungkap US, dilakukan langsung oleh anggota Polda Jabar yang dihubungi oleh salah seorang peternak.

“Ini juga jadi pertanyaan bagi para peternak, kok bisa Polda yang turun dalam tiga hari langsung menangkap pelaku, tapi dari polisi setempat belum terungkap. Kami berharap ini jadi cambuk supaya pihak kepolisian bisa mengungkap jaringan pencuri yang meresakan peternak,” tuturnya.

Sekretaris Komisi II DPRD Kabupaten Cianjur, Ade Sobari, mengakui, dalam kunjungan kerja Komisi II ke Jangari pada awal 2016, para peternak mengeluhkan hal serupa. Namun, kata Ade, pihaknya belum mendapatkan laporan lebih lanjut baik dari dinas atau pihak berwajib dalam penindakannya.

“Kami berharap agar jaringan ini segera diungkap dan diproses, kasihan para peternak. Jangan sampai warga Cianjur dibuat menderita, dan ekonominya dibuat melemah dengan dibiarkannya para pencuri ini,” tegasnya. (isl)

Comments

comments