Sejarah Berdarah Tikungan Turangga di Ciloto

0
419

CIANJUR, patas.id – Tebing Turangga atau Tikungan Turangga yang menjadi lokasi kecelakaan maut di Ciloto telah memakan puluhan korban baik pengendara lalu lintas maupun warga setempat.

Kawasan yang berdekatan dengan Restoran Bumi Aki ini mendapat julukan tersebut saat terjadi kecelakaan mengerikan pada tahun 1999. Saat itu, bus Turangga jurusan Bogor-Bandung kehilangan kendali dan menabrak tebing mengakibatkan 45 korban tewas.

Kondisi jalan yang menurun dengan belokan tajam sering membuat pengemudi kehilangan kendali karena sesaat sebelum belokan, jalan nasional tersebut berjalur lurus sehingga pengemudi cenderung melarikan kendaraan dengan kecepatan tinggi.

Setelah tragedi bus Turangga, di jalur yang sama terjadi kecelakaan pada 27 Februari 2013. Saat itu, bus pariwisata Mustika Mega Utama menghantam tebing dan mengakibatkan 17 orang meninggal dunia. Sebagian besar korban yang berniat berwisata religi asal Bogor tersebut adalah orang tua dan anak-anak.

BACA: Tengah Istirahat di Warung, Ibu Hamil Jadi Korban Kecelakaan Maut Ciloto

BACA: TNI dan Polri Kesulitan Angkat Bus dari Dasar Jurang

Untuk mencegah kejadian serupa, pada tahun 2013, Kapolda Jabar Irjen Pol Tubagus Anis Angkawijaya, pernah meminta instansi terkait untuk memasang marka kejut atau jump trap.

“Saya meminta Dinas Perhubungan untuk memasang jump trap di Ciloto. Selain itu memasang rambu-rambu lalu lintas.”

Jump trap lebih akrab disebut lintasan bergelombang, atau marka kejut yang berada di aspal jalan. Tujuannya sebagai tanda peringatan agar pengemudi tidak lengah saat melajukan kendaraan dan bisa mengontrol kecepatan kendaraan. Namun hingga hari ini, saat korban bertambah banyak, saran tersebut belum terlaksana. Di Tebing Turangga yang rawan kecelakaan berdarah itu, hanya ada spanduk peringatan agar pengemudi berhati-hati. (cho)

Comments

comments