Yayat Cahdiyat Dikenal Ramah

0
219

Yayat Cahdiyat (42 tahun) pelaku pengeboman Taman Pandawa Bandung ternyata dikenal ramah oleh anak-anak di sekitar tempatnya tinggal di Kampung Ciharashas Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku. Namun, menurut beberapa anak yang penah masuk ke rumahnya, sejumlah kamar tertutup rapat dan dilarang untuk dimasuki sehingga sering membuat mereka curiga.

Sejak awal pindah dari Bandung ke Cianjur tepatnya di kampung Ciharashas RT 04/RW 07 di rumah nomor 58 milik Dede Nuhasanah (27 tahun), Yayat dikenal ramah terhadap anak kecil. Bahkan, sepekan pindah, Yayat sering mengajak Siti Julaeha (10), keponakan Dede, bermain dan jalan-jalan.

Penjual aksesoris dan mainan itupun tak jarang mengajak anak-anak di lingkungannya bermain. Tidak hanya mengobrol, dia juga sering mencari belut di sawah dan mencari buah serta aktivitas lainnya.

“Mang Yayat mah baik, sering ke rumahnya. Kan ada tiga, Rarah, Ibad, sama kakaknya Hamzah. Tapi kalau mau main ke kamar pasti enggak boleh.”

Di dalam rumah, tambah Siti, hanya ruang tengah yang diperbolehkan untuk dijadikan tempat bermain bersama anak-anaknya. Yayat dan istrinya (masih belum diketahui identitasnya) yang dikenal tertutup dan kurang bersosialisasi pun, menurut Siti, sering membantu membuat pensil hias.

Namun, jika¬†anak-anak yang bermain mau masuk ke dalam kamar, mereka selalu dilarang dan kerap disuruh keluar dari rumah. Pintunya pun ditutup gorden. “Enggak tahu di dalamnya ngapain, tahunya kalau ke luar kamar bikin pensil yang di atasnya dikasih bunga-bungaan,” tutur Siti polos.

Anak-anak Yayat pun pilih-pilih untuk bermain. Jika tak begitu kenal, maka mereka memilih berdiam diri di kamar dan bermain dengan sesama anggota keluarganya. “Kalau yang baru kenal mah kadang langsung kabur,” imbuh Siti.

Tingkah laku Yayat yang cukup baik membuat warga tidak menaruh curiga bahwa dia seorang kriminal atau teroris. Yang sering menjadi tanda tanya warga justru kepribadian istri Yayat sangat tertutup dari lingkungan, gorden jendela pun tak pernah dibuka.

“Menjemur pakaian juga di belakang, padahal tidak panas karena tertutup pohon di kebun. Disuruh menjemur di depan juga enggak mau. Memang awalnya agak aneh, tapi tidak curiga, kami hanya menganggap dia memang muslimah yang tertutup,” kisah Dede Nurhasanah.

Setelah terjadinya pengeboman di Bandung dan penggeledahan di Ciharashas, warga pun kini enggan untuk mendekati rumah panggung yang sempat ditinggali Yayat selama lima bulan lebih itu. Apalagi, rumahnya masih dikelilingi garis polisi.

Suasana kampungnya pun begitu hening. Orang-orang takut untuk keluar rumah, sebab khawatir masih ada bahan peledak di rumah tersebut. “Ya, tunggu dari polisi saja, kalau aman baru warga mau keluar dan beraktivitas seperti biasanya,” ungkap dia. (isl)

Comments

comments