Dedi Mulyadi Makan Bareng Korban Banjir Karawang

0
291

KARAWANG, patas.id – Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi menyambangi korban banjir di Desa Rawa Gempol Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Karawang, Selasa (15 November 2016) . Dedi datang ke lokasi banjir tersebut usai memberikan paparan dalam Seminar Nasional Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang diselenggarakan oleh Universitas Singaperbangsa Karawang.

Pria yang selalu mengenakan iket khas Sunda tersebut membawa serta 3.000 paket nasi bungkus untuk dibagikan kepada seluruh korban banjir. Ia pun terlihat makan bersama korban banjir tahunan tersebut. “Sok, bagikeun ayeuna! Mangga bapak-ibu tuang heula ayeuna mah (Ayo, bagikan sekarang! Bapak-ibu silakan makan dulu),” ujar Dedi di lokasi.

Dedi yang hadir didampingi oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Karawang yang juga Ketua DPD Partai Golkar setempat, Sri Rahayu, terlihat turun langsung mengamati keadaan sekitar. Ia pun sempat memperhatikan aliran Sungai Citarum yang hampir meluap akibat debit air yang tidak tertampung oleh aliran sungai terpanjang di Jawa Barat tersebut.

“Nih, ada danau yang dipenuhi eceng gondok, ini seharusnya dikeruk lagi. Saya perkirakan ini luasnya kira-kira lima hektar, harusnya bisa menampung air daripada dibiarkan begini.”

dm-karawangSolusi jangka panjang menurut pria yang masih menjabat sebagai Bupati Purwakarta ini adalah pembangunan Bendungan Cibeet yang membendung aliran Sungai Cibeet yang bermuara di Sungai Citarum. Jika bendungan tersebut dibuat, menurut dia akan memperkecil debit air yang masuk ke aliran Sungai Citarum.

“Problem banjir ini kan luapan aliran anak Sungai Citarum, yakni Sungai Cibeet, itu harus segera dibendung untuk memperkecil debit air yang masuk ke Citarum.”

Bencana banjir di Rawa Gempol sendiri telah merendam rumah milik 700 keluarga di daerah tersebut dengan ketinggian air hingga pinggang orang dewasa sampai dua meter. Banjir yang merendam 5 RT ini mengakibatkan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Apep (28 tahun), salah seorang pemuda yang tinggal di RT 10, mengatakan banjir kali ini merupakan yang terparah. Mulai hari Jum’at (11 November 2016) lalu, rumah warga sekitar mulai terendam dan otomatis melumpuhkan aktivitas warga setempat.

Menurut Apep, biasanya banjir hanya berlangsung selama sehari kemudian diikuti penurunan debit air sehingga aktivitas warga kembali pulih dalam 24 jam kemudian. “Kali ini paling parah, biasanya sehari semalam juga sudah surut lagi, ini sudah berhari-hari, Pak,” pungkas Apep prihatin. (ken)

Comments

comments