Penjelasan Pihak SMKN 1 Haurwangi Soal Pelaku Pemukulan dan Pemerasan

0
309

CIANJUR, patas.id – Pelaku pemukulan dan pemerasan terhadap siswa baru di SMKN 1 Haurwangi ternyata sudah tidak bersekolah di sekolah tersebut. Namun pihak sekolah mengklaim telah menindaklanjuti kasus tersebut.

Humas SMKN Haurwangi, Cep Junjun Guntara, mengatakan bahwa pelaku utama dalam kejadian tersebut pernah bersekolah di SMKN 1 Haurwangi. Namun saat di kelas 1, siswa tersebut sering berulah hingga akhirnya dikeluarkan.

“Jadi saat itu (peristiwa bully, red), statusnya sudah bukan siswa kami,” ungkapnya usai sidak Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman ke sekolah tersebut, Rabu (19 Juli 2017).

BACA: Trauma Di-bully, Siswa Enggan Masuk Sekolah

Menurut Junjun, pelaku hanya satu orang, sedangkan siswa lain yang ada saat kejadian tidak melakukan pemukulan terhadap para korban.

“Yang siswa kelas 2 itu hanya kebetulan nongkrong di warung. Mungkin sedang pusing, pelaku memanggil siswa baru dan melakukan tindakan kekerasan.”

Junjun menuturkan, pihaknya sudah mempertemukan korban dengan pelaku. Kedua pihak pun telah menyetujui kesepatan untuk berdamai.

“Pelaku sudah berjanji di atas materai tidak akan mengulangi tindakannya, jika ingkar, akan langsung diproses hukum. Sementara korban takkan ada dendam, jadi semuanya sudah selesai, berdamai.”

Dia juga menambahkan bahwa pihak sekolah bakal terus melakukan langkah antisipasi kejadian serupa. Namun, terbatasnya tenaga keamanan, guru, dan kondisi bangunan, kerap menyulitkan sekolah meminimalisasi hal yang tidak diinginkan.

“Jadi kami juga mengharapkan ada fasilitas yang layak, supaya kejadian itu tak terulang. Kalau sekarang siswa bebas berkeliaran ke luar sekolah, sebab tak ada pagar. Makanya selain langkah antisipasi dari kami, diharapkan juga ada perhatian dari pemerintah untuk sarananya.”

Sementara itu, Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, menuturkan bahwa ‎peristiwa yang mencoreng dunia pendidikan di Cianjur harus dihilangkan. Oleh karena itu, rantai bully harus diputus, terutama dari senior kepada juniornya.

Di samping itu, lanjut dia, para siswa diharapkan mampu memperbaiki akhlaknya agar terhindar dari perilaku menyimpang‎, terutama bullying di lingkungan sekolah.

“Jangan hanya kepintaran yang diutamakan, akhlak juga tidak boleh dikesampingkan. Jadi keduanya harus dimiliki oleh siswa supaya karakternya kuat dan mampu berprestasi,” pungkasnya. (isl)

Comments

comments