Bertemu Juhdi “Sepatu Menguap”, Dedi Mulyadi Terkenang Sepatu Gosong Sebelah

0
284

CIANJUR, patas.id – Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mendatangi sekolah Juhdi (13 tahun) di SDN Sindanglaya Kecamatan Cipanas, Selasa (14 Maret 2017) pagi. Bocah yang saat ini tengah jadi sorotan karena sepatu menguap alias calangap saat memimpin upacara tersebut mendapatkan hadiah sepeda dari Dedi.

Juhdi mendapat banyak sorotan setelah fotonya yang menggunakan sepatu calangap diposting oleh salah seorang gurunya, Eddy Kusnaddy, di Facebook, Senin (6 Maret 2017). Postingan tersebut segera menjadi viral di sosial media dan banyak pihak jatuh simpati pada kondisi Juhdi.

Menurut Dedi, walau dengan kondisi saat ini, Juhdi harus tetap semangat untuk mengenyam pendidikan, sebab niat bersekolah tidak dipandang dari pakaian seragam dan sepatu bagus, namun dari keinginan dan pikiran.

“Saya contohkan, di Purwakarta tak ada pelajar yang masuk ke dalam kelas menggunakan sepatu. Semuanya nyeker. Kami bebaskan mereka ke sekolah mau pakai sepatu atau sendal, tidak masalah, karena terkadang problem sepatu bisa saja membuat minder.”

Setelah mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak, Juhdi pun diberi hadiah tabahan sebuah sepeda baru dari Dedi, agar ketika berangkat sekolah tidak lagi perlu berjalan kaki. Hal itu pun membuat Juhdi begitu senang seraya berkaca-kaca diberi sepeda oleh orang nomor satu di Purwakarta dan DPD Partai Golkar Jawa Barat itu.

Dedi menyebut fenomena Juhdi menjadi menarik dan viral karena kondisi ekonomi negara saat ini mulai membaik. Dia juga mengungkapkan pengalaman masa kecilnya yang hanya memiliki sepasang sepatu.

“Saya dulu pernah saat kecil sepatu saya basah karena hujan terjadi setiap hari. Karena cuma punya satu dan mau dipakai untuk besoknya, setiap malam saya garang di atas perapian sampai kering. Pernah suatu saat saya lupa, pas besoknya sudah gosong sebelah.”

Dedi berharap pendidikan yang berkarakter bisa menciptakan generasi yang berkualitas di masa depan, meski dengan keterbatasan. “Semoga tidak lantas terus-terusan menjadi dramatis, karena bagaimana pun pendidikan yang kita harapkan itu adalah pendidikan yang berkarakter dan mampu menciptakan generasi masa depan yang tangguh dan mandiri, bukan generasi yang cengeng,” tandasnya. (isl)

Comments

comments