LKC: Bahasa Sunda Akan Mengalami Kepunahan pada 2026

0
337

CIANJUR, patas.id – Lembaga Kesenian Cianjur (LKC) menilai bahasa Sunda bakal mengalami kepunahan pada 2026, sebab banyak generasi Sunda saat ini yang tidak melestarikan bahasa ibu tersebut.

Ketua LKC Luki Muharam mengatakan bahwa bahasa Sunda saat ini sudah bercampur dan tergeser oleh bahasa lain yang dianggap lebih ke keren atau unggul oleh generasi muda dibandingkan bahasa daerahnya sendiri.

“Sekarang orang lebih merasa bangga kalau pakai bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia. Dari pemanggilan orangtua pun sudah beda, seperti lebih senang dipanggil Daddy, Ayah, dan lainnya.”

Menurut Luki, pergeseran nilai, salahnya penggunaan, dan tidak diajarkannya Bahasa Ibu pada generasi saat ini membuat bahasa Sunda lambat laun terkikis. “Makanya, diperkirakan 2026 ini punah. Bukan punah dalam artian sebenarnya, melainkan pergeseran penggunaan sehingga nantinya bukan Bahasa Ibu atau Bahasa Indung sepenuhnya, namun kamalayon atau kemelayu-melayuan,” tuturnya.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mempertahankan Bahasa Sunda, salah satunya adalah dengan perang pemaksaan dengan mengandalkan kekuasaan dari Pemerintah Kabupaten Cianjur saat ini.

“‎Mataram sewaktu menguasai pemerintahan menekankan penggunaan tata bahasa, sehingga sekarang dikenal undak unduk basa. Padahal, di masa Pajajaran, bahasa sunda tidak seperti saat ini. Namun karena dipaksakan, jadinya sekarang berjalan. Bahkan Sunda Cianjur jadi patokan daerah lain, karena penggunaan bahasanya yang dinilai halus,” kata dia.

Berkaca dari hal itu, tambah Luki, Pemkab Cianjur juga sebaiknya mewajibkan penggunaan bahasa Sunda yang menjadi bahasa Ibu bagi Cianjur. Salah satunya dengan mengatur pengunaan bahasa sunda setiap hari tertentu.

“Misalnya tentukan Rabu para siswa menggunakan Bahasa Sunda. Atau lebih baiknya dari Senin sampai Rabu. Awalnya memang dipaksakan, namun ke depannya akan berjalan baik. Itu salah satu upaya konkritnya.”

Tidak hanya itu, menurutnya, pengenalan aksara sunda lebih parah lagi. Banyak yang tak mengerti bahkan tidak tahu apa itu aksara sunda dan bagaimana bentuknya. “Ini yang lebih miris lagi, aksara sunda sangat tidak dikenal. Kami pernah usulkan pembuatan plang nama jalan atau nama Dinas disertakan aksara Sunda, namun tak direalisasikan, makanya tidak dikenal,” ujarnya.

Sementara itu Wakil Bupati Cianjur Herman Suherman mengatakan bahwa bahasa ibu memang seharusnya dipertahankan. Oleh karena itu dirinya mengaku selalu menggunakan Bahasa Sunda di rumah. Hal itu pun diharapkanya diterapkan oleh setiap keluarga di Cianjur. “Momentum Hari Bahasa Ibu Internasional ini harus dimanfaatkan untuk membangkitkan lagi semangat kedaerahan. Jangan malu berbahasa sunda,” tuturnya. (isl)

Comments

comments