Kok Bisa 265 Bahasa Ibu di Indonesia Terancam Punah?

0
259

PATAS.ID – Tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Yang dimaksud dengan “bahasa ibu” adalah bahasa yang kita kenal dan kita pakai pertama kali. Di Jawa Barat, mayoritas penduduknya mengenal bahasa Sunda sebagai bahasa ibu mereka.

Menurut UNESCO, bahasa ibu bisa punah jika penuturnya hilang atau mengganti bahasa yang dipakainya dengan bahasa lain yang dipakai oleh kelompok yang lebih besar atau lebih kuat. Kepunahan bahasa juga bisa terjadi karena ancaman militer, ekonomi, agama, budaya, atau sikap negatif penutur terhadap bahasa ibunya sendiri.

Dalam sejarah peradaban manusia, ribuan bahasa telah hilang. Para pakar linguistik menghitung bahwa di wilayah Eropa dan Asia Minor saja, tercatat 75 bahasa telah punah. Di Amerika Serikat, dalam 500 tahun terakhir tercatat 115 bahasa hilang, terutama bahasa suku-suku Indian.

Salah satu proyek yang digagas oleh Alliance for Linguistic Diversity (ALD) berhasil mendokumentasikan bahasa-bahasa yang terancam kepunahan di seluruh dunia. Dalam situs mereka, Endangered Language, ALD menyebutkan bahwa di Indonesia, terdapat 265 bahasa yang hampir punah.

Bahasa Dondo yang dulu menjadi bahasa ibu di wilayah Tolitoli (Sulawesi), misalnya, kini hanya dikenal oleh sekitar 13 ribu penutur karena generasi muda mereka lebih memilih berbahasa Babar (bahasa yang lebih umum di Sulawesi) atau bahasa Indonesia. Kondisi bahasa Kadai tak lebih baik. Bahasa yang dipakai masyarakat Maluku Tengah tersebut hanya menyisakan 350 orang penutur saja.

Menurut UNESCO, setiap bahasa ibu mencerminkan nilai-nilai, filosofi, serta budaya daerahnya. Hilangnya bahasa juga akan menghilangkan ilmu-ilmu yang dikenal dalam bahasa tersebut selama berabad-abad, termasuk ilmu sejarah, spiritual serta ilmu ekologi yang mungkin penting bagi keberlangsungan hidup nenek moyang penutur bahasa tersebut.

Bahasa juga menjadi identitas budaya, tambah UNESCO dalam website mereka. Dalam bahasa Indonesia, kita memiliki peribahasa “bahasa mencerminkan bangsa,” sedang dalam bahasa Sunda, kita mengenal ungkapan, “basa teh ciciren bangsa.” Keduanya sama-sama mengisyaratkan betapa pentingnya sebuah bahasa sebagai penanda eksistensi seseorang.

Sebagai ilustrasi, saat ini di Jawa Barat, banyak generasi muda Sunda yang tak lagi mengetahui istilah-istilah yang berkenaan dengan ilmu bercocok tanam seperti ngarambet, ngawuluku, ngangler, nyingkal, tandur, dan lain sebagainya. Bahkan, penyebutan nama-nama anggota tubuh seperti cungcurungan, angkeutbayah, kekemplong, harigu, dan sebagainya pun sudah jarang didengar.

Fenomena ini diperparah dengan fakta bahwa semakin banyak orang tua yang enggan melatih anak-anaknya memakai bahasa Sunda di rumah dengan alasan supaya anaknya tidak kaku berbahasa Indonesia nanti di sekolah. Seolah-olah dengan mengenal bahasa Sunda, anak akan kesulitan belajar bahasa lain.

Padahal, menurut Khusrau Gurganvi, seorang pakar bahasa dunia, mengenal bahasa ibu akan meningkatkan kemampuan mental anak. Semakin banyak bahasa yang diketahui seorang anak (termasuk bahasa daerah atau bahasa ibu), otak mereka akan berkembang semakin baik, perbendaharaan kata mereka pun akan kaya.

Bahasa ibu sebagai sebuah identitas yang harus dijaga agar tak punah harusnya cukup menjadi alasan mengapa kita harus melestarikannya. Namun jika alasan tersebut tak cukup, dalam rangka memperingati Selamat Hari Bahasa Ibu Internasional, sastrawan Sunda Godi Suwarna hari ini menulis dalam status Facebook-nya: “Jika surga ada di bawah telapak kaki ibu, maka bahasa ibu adalah bahasa surga.” (cho)

Comments

comments