Sanksi Berat Menanti Para Pelaku Tawuran

0
399
Puluhan pelajar melakukan tawuran dengan warga yang berada di Jalan. Abdulah Syafei, Gudang Peluru, Jakarta, Jumat (4/11/2015). Tawuran pelajar ini kerap terjadi hampir setiap siang hari.

CIANJUR, patas.id – Seluruh SMA/SMK di Cianjur yang siwanya sering terlibat tawuran bakal membuat saurat kesepakatan untuk mengeluarkan siswa yang tawuran, terutama jika menimbulkan korban luka atau korban jiwa.

Hal itu menjadi keputusan dari rapat koordinasi antaran pemerintah, Kepala SMA/SMK, Polres Cianjur, TNI, dan DPRD Kabupaten Cianjur di ruang Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, Senin (20 Februari 2017).

Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, mengatakan, rapat itu digelar menindaklanjuti adanya siswa SMKN 1 Cilaku yang tewas disabet celurit pada bagian perut oleh siswa SMK AMS, Jumat (18 Februari 2017) malam. “Mendengar adanya kabar tersebut, kami segera memanggil seluruh kepala SMA/SMK, terutama SMKN 1 Cilaku dan AMS. Kami rumuskan lagi terkait antisipasi tawuran di Cianjur.”

BACA: Pulang Rayakan Ultah Temannya, Siswa SMK Diclurit

Menurut Herman, hingga sepekan ke depan, SMK AMS diliburkan untuk mengantisipasi bentrokan yang lebih besar. Apalagi setelah kasus penyabetan tersebut, siswa SMKN 1 Cilaku juga melakukan upaya balasan dengan melempari gedung SMK AMS di Jalan Perintis Kemerdekaan.

“Daripada mengancam lebih banyak orang lebih baik diantisipasi sedini mungkin. Suasananya saat ini masih panas, dikhawatirkan timbul korban lagi.”

Setelah kembali masuk pada Senin (27 Februari 2017) depan, Herman mengungkapkan akan ada upacara gabungan sekaligus penandatanganan kesepakatan bersama dari setiap sekolah. Kesepakatan itu meliputi sanksi tegas pada siswa yang terlibat tawuran, apalagi jika mengakibatkan korban jiwa.

“Jadi ke depan akan tegas, yang tawuran atau mencederai siwa lain, akan dikeluarkan dan tidak diterima di sekolah manapun di Cianjur. Silahkan kalau mau ke luar kota, Cianjur tidak ada tempat bagi mereka yang tawuran dan membuat masalah. Lebih baik mengorbankan satu orang daripada lebih banyak korban yang muncul akibat keberadaannya.”

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur, Sapturo, mengatakan bahwa yang mesti ikut bertanggungjawab dengan maraknya tawuran dengan korban luka atau korban jiwa ialah kepala sekolah dan guru. Mereka harus bisa mendidik siswa agar tidak berperilaku negatif, ketika pulang pun harus ada pemantauan agar tak ada aktivitas yang berujung pada tawuran.

“Saya harap, kejadian beberapa hari lalu jadi pelajaran agar guru lebih mengawasi muridnya. Lakukan sanksi tegas, jangan dibiarkan siswa yang tawuran ini. Beberapa sekolah yang dikenal sering tawuran pun sudah bisa mencegah, apalagi sekolah yang tidak begitu intens aktivitas tawurannya,” kata dia. (isl)

Comments

comments