Antisipasi Pelecehan Seksual, P2TP2A Akan Kunjungi Sekolah

0
262
young girl is a victim of abduction

CIANJUR, patas.id – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur bakal menggencarkan kunjungan ke sekolah untuk mengantisipasi pelecehan seksual. Tidak hanya sekolah formal, sekolah agama dan pondok pesantren juga akan menjadi target pembinaan.

Kepa‎la Bidang Advokasi dan Penanganan Perkara P2TP2A Kabupaten Cianjr, Lidya Indayani Umar, mengatakan bahwa lingkungan pendidikan menjadi wilayah yang rawan terjadinya pelecehan seksual, baik dari murid ke murid, atau murid oleh gurunya. “Seperti yang terjadi di awal tahun ini, guru ngaji yang merupakan lingkungan pendidikan nonformal melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya. Bukan hanya satu, tapi sampai tiga kasus berbeda di awal tahun ini,” kata dia.

Menurutnya, fenomena tersebut tidak bisa dibiarkan, sebab akan merusak lingkungan pendidikan dan membuat anak terancam di tempat yang seharusnya menjadi sarana menimba ilmu, baik ilmu agama ataupun akademis.

“‎Tentunya sangat tidak dibenarkan. Seharusnya guru pun menjadi pengayom, pendidik, dn figur contoh bagi siswanya, bukan malah menjadi predator.”

Lidya mengungkapkan bahwa tahun ini P2TP2A akan melakukan ‎pembinaan dan edukasi agar siswa dapat menghindari pelecehan seksual, mulai dari tingkatan TK hingga mahasiswa, sebab setiap tingkatapun memiliki resiko yang sama besarnya. “Rencananya kami akan masuk ke sekolah-sekolah untuk melakukan pembinaan. Dimulai dari TK, SD, SMP, SMA/SMK, hingga ke perguruan tinggi,” kata dia.

Metode yang disampaikan kepada setiap tingkatan akan dilakukan berbeda. Bagi siswa TK dan SD, menurut Lidya, pihaknya akan membimbing agar siswa bisa menolak ketika diajak orang tak dikenal, apalagi sampai diiming-imingi. “Sedangkan untuk siswa SMP, SMA/SMK, dan mahasiswa, ada penympaian yang lebih detail agar peserta bisa membaca tujuan dari ajakan teman atau gurunya. Sehingga pelecehan bisa diantisipasi lebih dini.”

Di samping itu, para juga akan korban didorong agar berani melapor jika telah dilecehkan. Dengan begitu, pelecehan yang dilakukan pelaku pada orang lain bisa diminimalisir.

“Memang akan sulit, tapi harus dilaporkan meski dalam tekanan. Kebanyakan korban takut melapor sebab ada ancaman. Tapi tetap mesti memberikan diri atau terus menjadi target pelecehan.”

Lidya menambahkan bahwa keutuhan keluarga juga mesti dijaga, sebab mereka yang jadi korban atau pelaku seringkali menjadi efek dari rusaknya keluarga. “Ada yang dikarekan cerai, ditinggal jauh keluarga atau faktor lainnya. Makanya harus diantisipasi dalam segala bidang. Kami harapkan ke depan angka pelecehan seksual di Cianjur bisa menurun,” tandasnya. (isl)

Comments

comments