Sekolah Lima Hari, Pelajaran Agama Akan Jadi Kegiatan Ekstrakurikuler

0
302

PATAS.ID – Menyusul sistem sekolah 5 hari yang akan diberlakukan mulai tahun ajaran baru 2017/2018, dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI, Selasa (13 Juni) kemarin, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy kembali mengeluarkan wacana yang menjadi perbincangan hangat, yaitu bahwa pendidikan agama akan dihapus dari mata pelajaran di sekolah.

Muhadjir beralasan sekolah lima hari tidak sepenuhnya berada di sekolah. “Guru dan siswa hanya berada di dalam kelas beberapa jam. Selebihnya di luar kelas atau sekolah,” ujarnya. Oleh karena itu untuk pendidikan agama, masing-masing sekolah bisa mengajak siswa belajar di masjid, pura, gereja, atau tempat ibadah lain sesuai agama yang dianut siswa.

Alternatif lainnya, sambung Muhadjir, adalah dengan mendatangkan guru-guru di TPA atau Madrasah Diniyah didatang ke sekolah untuk memberikan pelajaran agama. Dengan sinkronisasi kurikulum, para pengajar ini kemudian berhak memberikan nilai agama kepada para siswa.

“Kalau sudah dapat pelajaran agama di luar kelas, otomatis siswa tidak perlu lagi dapat pendidikan agama di dalam kelas. Nanti, akan kami atur teknisnya, agar pendidikan agama yang didapat di luar kelas atau sekolah itu disinkronkan dengan kurikulum.”

Oleh karena itu, Kemendikbud membantah isu bahwa pendidikan agama dihapuskan. Justru pendidikan keagamaan yang selama ini dirasa kurang dalam jam pelajaran pendidikan agama akan semakin diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Muhadjir mencontohkan penerapan penguatan pendidikan karakter yang dilakukan beberapa kabupaten seperti Kabupaten Siak yang memberlakukan pola sekolah sampai pukul 12.00 WIB, dilanjutkan dengan belajar agama bersama para ustadz. Siswa diberi makan siang yang dananya diambil dari APBD.

“Modelnya, setelah selesai, mereka ada pemberian makanan oleh Pemda. Kemudian, diganti oleh ustadz-ustadz untuk pendidikan Diniyah.”

Contoh lain, sambung Muhadjir, adalah di Pasuruan, Jawa Timur. Usai Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas, siswa diarahkan menuju diniyah untuk memperoleh pendidikan keagamaan.

Soal pembagian makanan bagi siswa di sekolah, Kemendikbud mengaku akan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda), Kementerian kesehatan serta Komite Sekolah. Dengan demikian, makanan anak-anak bisa terjamin tanpa harus membebani orang tua siswa.

“Kemenkes kan juga ada program pemberian makanan tambahan bagi anak, ya? Nanti akan kita maksimalkan. Tapi ya jangan dibayangkan seperti boarding school yang ada dapur dan lainnya,” ujarnya. (cho).

Comments

comments