Anak TKW Tak Menyangka Ibunya Pulang Terbungkus Peti Mati

0
235

CIANJUR, patas.id – Anak-anak dari TKI asal Cianjur Napiroh binti Adang Jayadi (41 tahun) tidak menyangka ibu mereka pulang dalam kondisi berada dalam peti mati, Rabu (5 April 2017). Padahal sebelumnya, Napiroh berangkat dalam keadaan sehat dan sempat beberapa kali memberi kabar.

Siti Saadah (20 tahun), anak kedua Napiroh, mengungkapkan bahwa ibunya berjanji pada keluarga saat terakhir kali berangkat bekerja sebagai TKI, untuk membiayai dua orang anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun pihak keluarga tidak mengetahui ke negara mana tujuan ibunya tersebut bekerja.

“Mamah janjinya ini untuk terakhir kali dia berangkat menjadi TKI, niatnya untuk mencari uang guna biaya sekolah dan membeli rumah karena sejak ayah kami meninggal tidak ada yang mengurus Mamah. Jadinya dia memutuskan untuk berangkat karena ayah sudah tidak ada dan adik-adik masih butuh biaya.”

Siti mengaku keluarganya tidak tahu apakah ibunya berangkat melalui jalur resmi atau tidak karena sebelum berangkat untuk terakhir kali, Napiroh sempat menjadi TKI selama beberapa tahun di Qatar sebagai pembantu rumah tangga. Namun sebelum berangkat, Napiroh mengatakan masih berada di penampungan di wilayah Condet-Jakarta.

Selama berada di Jakarta dan setelah di Arab Saudi, lanjutnya, Napiroh sempat beberapa kali memberi kabar, bahkan saat berada di Saudi sekitar Desember 2016, ibunya mengeluh tidak cocok dengan majikannya yang sudah tua dan sering marah.

“Tidak ada mengeluh tentang sakit, tapi mengeluh majikannya bawel dan sering marah-marah karena sudah tua. Waktu itu, Mamah memberitahu sudah minta pindah majikan karena tidak betah. Itu terakhir saya mendapat kabar dari Mamah dan tidak tahu pindahnya ke negara mana,” tutur Siti.

Selama tiga bulan terakhir, pihak keluarga kehilangan kontak dengan Napiroh hingga akhirnya beberapa hari lalu, mereka mendapat kabar perihal meninggalnya Napiroh di Suriah karena sakit yang dideritanya. Pihak keluarga hanya bisa pasrah dan bersyukur jasad Napiroh dapat dipulangkan guna dimakamkan di kampung kelahiranya.

“Sebelum berangkat memang mamah sempat menjalani perawatan di RSUD Cianjur, dokter mendiagnosa ada kelainan pada lambung Mamah. Tapi selang beberapa bulan mendapat perawatan, Mamah kembali sehat dan tidak mengeluhkan sakit, kemudian berniat untuk kembali berangkat sebagai TKI.”

Pihak keluarga tidak berharap banyak, hanya ingin jasad ibu mereka dimakamkan di Kampung Palahlar, Desa Sukamahi, tidak jauh dari rumah anak-anaknya.

“Kami sudah mengikhlaskan kepergiannya, kami berterima kasih pada semua pihak yang telah membantu kepulangan jenazah ibu kami.”

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Cianjur, Ambar Dwi Wahyunigtyas melalui Sekretaris Dinas, Heri Suparjo mengiyakan dengan adanya seorang warga Cianjur yang meninggal dunia di Damaskus, akibat sakit. Heri menyebutkan, dari hasil Komunikasi dinas dengan pihak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) di Jakarta, Napiroh merupakan korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

“Selain berangkat dengan menggunakan administrasi yang salah. Almarhumah juga berangkat ke Damaskus pasca moratorium, yaitu 26 September 2016.”

Heri menjelaskan, Napiroh berangkat ke luar negeri dengan menggunakan paspor umum bukan untuk TKI. “Napiroh berangkat dengan menggunakan pasport umum yang di keluarkan oleh Kantor Imigrasi Bandar Lampung dengan nomor B 4737855,” jelasnya.

Heri berharap, kejadian yang menimpa Napiroh tidak kembali berulang. Warga pun diharapkan tidak mudah tergiur dengan iming-iming sponsor untuk berangkat ke negara-negara di Timur Tengah. “Kan sudah ada moratorium. Kamipun akan lebih gencar melakukan sosialisasi melakui kecamatan dan pemerintah desa,” pungkasnya. (isl)

Comments

comments