Tren Perempuan Bekerja Dari Rumah Semakin Naik, Ini Buktinya!

0
250
Hispanic mother with baby working in home office

PATAS.ID – Bekerja di rumah nampaknya menjadi tren yang terus menanjak seiring dengan mudahnya akses teknologi yang memungkinkan efisiensi tempat dan waktu. Statistik pun membuktikan demikian. Global Workplace Analytics melaporkan bahwa sebanyak 50% tenaga kerja Amerika saat ini mencari pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah, sementara sebanyak 80-90% persen memimpikan pekerjaan yang sifatnya part time (paruh waktu) serta bisa dilakukan sepenuhnya dari rumah.

Menurut Pew Research Center, pada 2014, prosentase perempuan yang bekerja dari juga rumah meningkat dari 23% pada 1999 menjadi 29% pada 2012 dan tren ini terus merangkak naik. Diketahui terdapat sekitar 8,6 juta bisnis di Amerika Serikat dimiliki oleh perempuan atau kaum ibu yang sukses menjalankan roda usaha seraya mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Di Indonesia, tren tersebut juga terjadi. Meskipun belum ada data pasti, namun kita bisa menyaksikan bahwa semakin banyak perempuan yang memilih bekerja dari rumah atau memiliki bisnis sampingan di rumah. Dengan memanfaatkan modal dan teknologi, perempuan-perempuan ini menyiasati era teknologi informasi dengan mulus.

Dian Wulan (42 tahun), misalnya, dalam 5 bulan terakhir tengah menjalani bisnis busana muslim. Media sosial yang dulu menjadi tempatnya bertegur sapa dan bercanda dengan teman-teman, sekarang dimanfaatkan sebagai ajang promo. Kendati menyebutkan bahwa terkadang dirinya harus berkompetisi dengan marketer yang lebih profesional, namun motivasi perempuan ini sangat kuat.

“Aku ingin ingin mengembangkan potensi diri, menambah perhasilan, sekaligus mencari peluang yang ada.”

Hal serupa juga dilakukan Tiktik Rusyani (51 tahun), seorang penulis sekaligus pebisnis asal Bandung. Perempuan yang memiliki 2 anak ini memiliki warung kelontong di rumahnya sejak 2008. Namun sebagai perempuan yang melek teknologi, Tiktik juga mengembangkan bisnis dengan menerima pesanan kue secara online disamping tetap menyalurkan passion menulisnya.

“Hasilnya sangat lumayan, saya bisa membayar kebutuhan ini-itu, semua tercukupi dari bisnis yang saya jalankan. Yang terpenting, saya adalah boss bisnis saya sendiri,” ujar Tiktik yang mengaku bahwa untuk menggerakkan roda bisnisnya, dia harus kreatif menyiasati menjamurnya minimarket di sekitar kompleks perumahannya.

Lain lagi dengan Sarinovi (36 tahun), salah seorang lajang Jakarta. Perempuan ini mendapatkan uang dengan menjadi blogger yang memberikan reviews atau tinjauan produk. Awalnya, Sari menjadi blogger karena hobi menulis. Namun dalam 2 tahun terakhir, seiring bertambahnya pembaca blog, dia sering mendapat kiriman barang untuk di-review.

“Kemaren malah ada yang ngirim mesin cuci, padahal aku gak tahu apa-apa soal mesin cuci. Tapi karena sudah berbaik hati dikirim, akhirnya aku bikin tinjauan produk, membandingkannya dengan mesin cuci di rumah, juga tanya sana-sini.”

Sari juga mengaku sering dapat kiriman ponsel, kosmetik, buku, voucher menginap di hotel, diundang datang ke acara peluncuran produk, dan lain sebagainya. “Sebagai imbal balik, mereka meminta aku menulis tentang produk mereka,” papar Sari sembari menambahkan bahwa terkadang dia menjual produk yang sudah dia review, atau menghadiahkannya pada orang lain.

Sementara itu Firda (35 tahun), tengah berusaha membuka bisnis kafe. Menu utama yang dijagokannya adalah soto ayam dan es krim durian. Firda baru memulai bisnis sampingan ini enam bulan lalu dengan alasan bosan menjadi karyawan dengan rutinitas keseharian yg itu-itu saja. Warga Purwakarta ini mengaku roda bisnisnya masih sulit berderak karena di kotanya, hampir setiap jalan dan sudut-sudut kota dipenuhi oleh kafe-kafe yang menawarkan konsep unik dan menarik.

Meski begitu, Firda tak menyerah. Untuk menyiasati persaingan bisnis yang ketat, Kafe Soto Kemuning miliknya dipersenjatai dengan koneksi wifi gratis dan promo Jum’at Gratis. Hasilnya? “Masih perlu kesabaran dan lebih kreatif mencari strategi yg tepat untuk menarik minat pembeli,” ujar Firda optimis.

Apapun jenis bisnisnya, keempat perempuan tersebut memanfaatkan rumah dan teknologi informasi sebagai sarana untuk mengembangkan bisnis mereka tanpa mengesampingkan peran mereka sebagai anak yang berbakti pada orang tua, atau sebagai istri dan ibu yang harus menjaga dan merawat keluarga mereka. (cho)

 

 

Comments

comments