Fanspage Kaesang Pangarep Mengolok-olok SBY?

0
237

PATAS.ID – Kicauan mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam akun Twitter-nya mengundang banyak simpati dari netizen dan tercatat telah di-retweet sebanyak lebih dari 6.000 kali. Twit diposting sendiri oleh SBY tersebut berbunyi:

“Saya bertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak untuk tinggal di negeri sendiri, dengan hak asasi yang saya miliki? *SBY*”

Sebagian besar netizen pemilik Twitter menyampaikan rasa simpati pada SBY yang diduga mengeluarkan kicauan tersebut lantaran rumahnya di Jakarta Selatan didatangai para pendemo yang datang dengan 11 bus besar dan 2 unit Kopaja pada Senin (6 Februari 2017). Diketahui kemudian, massa tersebut merupakan kelompok Silaturahim Mahasiswa Indonesia yang juga peserta Jambore di Cibubur.

Namun selain ungkapan simpati, twit SBY juga mendapat olok-plok, salah satunya dari pemilik akun Fanspage  (FP) Kaesang Pangarep. Nama Kaesang Pangarep selama ini dikenal sebagai nama anak ketiga Presiden Joko Widodo yang masih berstatus mahasiswa. Dalam status FP tersebut, Kaesang memberikan pertanyaan iseng yang, seperti isi twit SBY, ditujukan kepada Presiden dan Kapolri.

“Saya bertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri, apakah rasa sakit karena mencintai diam-diam itu ditanggung oleh BPJS?”

Status FP yang diposting pada Selasa (7 Februari 2017) siang tersebut hingga saat ini telah dibagikan oleh lebih dari 2.000 pengguna akun Facebook dan menularkan kelatahan dengan munculnya banyak status serupa, yang mempertanyakan hal-hal sepele pada Presiden dan Kapolri. Dalam status tersebut, kebanyakan komentar yang diberikan juga sifatnya hanya lucu-lucuan meskipun ada juga yang serius.

Pemilik akun Leni Rhomayani, misalnya, berkomentar: “Saya mau bertanya kepada Bapak Presiden dan Pak Kapolri, apakah kalo udah pacaran lama terus putus boleh jadi menantu Pak Presiden?” Sementara pemilik akun Suryadharma Dewantara memberikan komentar, “Saya bertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri, apakah kami masyarakat Bali tidak memiliki hak di negeri ini untuk menolak reklamasi berkedok revitalisasi yang di-Perpres-kan oleh Bapak Reklamator kita?” (cho)

 

 

Comments

comments