KPK Tetapkan Mantan Direktur Garuda Sebagai Tersangka Korupsi

0
241

JAKARTA, patas.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Emirsyah Satar, mantan Direktur Garuda Indonesia, sebagai tersangka kasus korupsi dalam pembelian pesawat dan mesin dari Airbus dan Rolls-Royce. Hal ini menyusul berakhirnya investigasi perakitan turbin jet blue-chip yang dilakukan oleh Serious Fraud Office (SFO) Inggris. Investigasi yang berlangsung sejak tahun 2012 tersebut berakhir hari Senin (16 Januari 2017) lalu.

Pihak Rolls-Royce akhirnya bersedia mebayar denda sebesar £671 juta atau sekitar Rp 11 triliun pada pemerintah Amerika Serikat, Inggris dan Brasil setelah mengakui kesalahannya karena melakukan penyuapan dan korupsi selama lebih dari 20 tahun. Denda ini dipandang sangat kecil karena hanya senilai dengan keuntungan yang didapat Rolls Royce pada tahun 2016 saja.

Beberapa tuntutan yang diajukan ke-3 negara tersebut menyangkut pengadaan mesin bagi Garuda Indonesia. Menurut agen Serious Fraud Office (SFO) Inggris, makelar pengadaan mesin Indonesia mendapat uang jutaan poundsterling dan sebuah mobil mewah Rolls-Royce tipe Silver Spirit untuk membantu memuluskan kontrak pembelian.

Dalam website-nya, KPK hanya memberikan inisial. Namun tersangka diperkirakan adalah Emirsyah Satar, Direktur Garuda Indonesia yang memegang jabatan pada periode 2005-2014. tersangka lainnya adalah pemilik perusahaan Connaught International. Keduanya ditahan dengan tuduhan menerima suap sehubungan dengan pengadaan pesawar dan mesin pesawat dari Airbus dan Rolls-Royce.

 

Dilansir dari Financial Times, pihak Airbus dan Rolls-Royce menolak memberikan pernyataan. Sementara hari Kamis, (19 Januari 2017), Vice President Corporate Communication Garuda Indonesia, Benny S Butarbutar, menegaskan bahwa kasus yang menjerat Emirsyah tersebut bukan tindakan korporasi, melainkan ulah perseorangan.

“Manajemen maskapai nasional Garuda Indonesia menyampaikan bahwa dugaan atas hal tersebut tidak ada kaitannya dengan kegiatan korporasi, tetapi lebih pada tindakan perseorangan.”

 

Emirsyah Satar, dipandang sebagai direktur yang cukup sukses mengelola maskapai penerbangan nasional Indonesia. Saat dilantik pada tahun 2005, Garuda Indonesia memiliki rekor buruk soal keselamatan penumpang, perawatan, serta pelayanan. Emirsyah berhasil menyehatkan kembali kondisi Garuda, juga mencabut larangan terbang di Uni Eropa.

Dalam dokumen tuntutan yang dilayangkan pada Rolls-Royce, SFO Inggris juga menemukan adanya bukti penyuapan Rolls Royce terhadap beberapa nama terkemuka lainnya di Indonesia, termasuk pejabat militer. Akankah ada nama lain yang akan muncul? Kita tunggu saja. (cho)

Comments

comments