Pembentukan Badan Cyber Nasional Mengemuka Kembali

0
255
Word on keyboard

JAKARTA, patas.id – Pembentukan Badan Cyber Nasional (BCN) mengemuka kembali. Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebutkan bahwa CBN nantinya akan digabung dengan Lembaga Sandi Negara sehingga namanya nanti adalah Badan Cyber dan Sandi Negara.

Pembentukan BCN, menurut Tito, adalah penting, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak terkena dampak kasus kejahatan dunia maya. Berdasarkan data, 130 juta dari 255 juta penduduk Indonesia memiliki gadget yang terkoneksi dengan internet. Tito berpendapat diperlukan lembaga khusus untuk menangani pengawasan terhadap akses internet.

“Pengguna internet Indonesia itu cukup tinggi sangat tinggi. Saya dengar datanya 50 persen miliki gadget perlu pengawasan dan regulasi lain. Badan cyber ini kita harapkan bisa mengatur itu.”

Sementara itu Menko Polhukam Wiranto, Kamis (5 Januari 2017), menjelaskan bahwa BCN berfungsi untuk melakukan pemilahan berita bohong alias hoax di lini massa. Tujuannya adalah agar masyarakat mendapat pemahaman sekaligus bisa membedakan mana informasi telah diklarifikasi dan mana yang belum. BCN juga akan menjadi senjata baru Jokowi dalam menepis pelbagai tudingan yang menyasar pemerintahan. Apalagi, kata Wiranto, derasnya informasi di tanah air justru semakin membuat masyarakat kebingungan.

Sebelumnya, Presiden Jokowi pernah mengumandangkan rencana pemerintah membentuk BCN pada bulan Januari 2015 lalu. Saat itu, pembentukan BCN dinilai sangat penting, mengingat Indonesia belum memiliki perlindungan cyber yang terintegrasi.

Namun, pemerintah kemudian batal membentuk Badan Cyber Nasional dengan alasan penghematan anggaran. Pembatalan tersebut diputuskan dalam rapat mengenai BCN di Kantor Kementerian Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan di Jakarta, Selasa (21 Juni 2016). Sebagai gantinya, tugas BCN dialihkan pada lembaga yang sudah ada, yakni Lemsaneg atau Lembaga Sandi Negara. (cho)

 

Comments

comments