Dinkes: Bojongpicung Daerah Endemis DBD

0
29

CIANJUR, patas.id – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Tresna Gumilar, menjelaskan bahwa temuan kasus demam berdarah yang terjadi di Kecamatan Bojongpicung pertama kali diketahui pada 8 September 2019 lalu, setelah seorang pegawai Puskesmas Cikondang Kecamatan Bojongpicung menerima informasi jika salah seorang warga yakni Nursyifa (26 tahun) asal Desa Sukajaya dirawat di RSUD Cianjur lantaran positif DBD.

Sepekan kemudian, kembali masuk laporan terkait warga yang positif DBD di desa yang sama.

“Setelah itu, hampir dua hari sekali ada warga yang positif DBD dibawa ke puskesmas dan dirujuk ke rumah sakit. Bahkan pada 20 Oktober 2019, tercatat ada 10 warga yang harus dirawat lantaran DBD,” ujar Tresna, kepada wartawan, Kamis (24 Oktober 2019).

Menurutnya, ada tiga desa yang tercatat warganya mengidap DBD, yakni Desa Sukajaya, Desa Cikondang, dan Desa Sukarama Kecamatan Bojongpicung. “Dari tiga desa tersebut, Sukajaya yang paling banyak terkena DBD,” jelasnya.

Dinskes juga mencatat ada 12 warga di Kecamatan Bojongpicung yang suspect DBD. Mereka terus diperiksa kesehatannya untuk memastikan apakah memang DBD atau mengidap penyakit lain.

Tresna menambahkan, dari puluhan warga yang positif DBD, satu di antaranya meninggal dunia. Korban meninggal dunia akibat DBD yakni Iis Aisyah (42 tahun) asal Kampung Babakan Astana, Desa Sukajaya, Kecamatan Bojongpicung.

Awalnya korban mengeluhkan pusing, nyeri perut, demam, dan muntah-mutah. Kemudian keluarga membawa korban ke puskesmas untuk diperiksa, dan akhirnya diberi sejumlah obat.

Namun, ternyata keluhan korban tidak kunjung mereda hingga keluarganya membawa korban ke rumah sakit menggunakan ambulan desa tanpa melibatkan petugas kesehatan, pada Kamis (17 Oktober 2019).

“Keesokan harinya, yakni pada 18 Oktober, pasien DBD tersebut dinyatakan meninggal dunia dan jenazah diantarkan ke rumah duka untuk dimakamkan,” jelasnya.

Dengan adanya kejadian itu, lanjut Tresna, Dinkes langsung melakukan pengecekan ke lapangan dan mengimbau warga untuk menjalankan pola hidup besih dan sehat serta melakukan pengurasan pada setiap penampungan air.

Pasalnya, menurut dia, nyamuk aedes aegepty yang menyebabkan DBD diduga banyak berkembang biak di genangan air dan bak mandi yang jarang dikuras selama musim kemarau.

“Kami sudah koordinasi dengan pihak kecamatan dan desa untuk menggencarkan pola hidup bersih dan sehat, terutama menguras bak penampungan yang bisa dijadikan tempat berkembang biaknya nyamuk. Kami juga sudah lakukan fogging. Selain itu tentu akan ada pengawasan khusus, terlebih Bojongpicung merupakan daerah endemis DBD,” tuturnya.

Direktur Utama RSUD Cianjur, Ratu Tri Yulia, mengatakan, pihak rumah sakit berusaha untuk melakukan penanganan maksimal terhadap para pasien DBD. Menurutnya, pasien tersebut tersebar di sejumlah ruangan, mulai dari Ruangan Arben, Manggis, Matahari, Apel, ICU, Flamboyan, dan Samolo.

“Lima pasien DBD di Flamboyan dan Samolo sudah diperbolehkan pulang, sebab kondisinya sudah kembali membaik,” tutur Ratu.

Terkait pasien yang meninggal dunia, ungkap Ratu, pihak RSUD sudah melakukan penanganan medis, namun saat masuk ke rumah sakit pasien sudah dalam kondisi yang lemah. (daz)

Comments

comments