Wilayah Selatan Rawan Terpapar Rabies

0
31

CIANJUR, patas.id – Wilayah selatan Kabupaten Cianjur dianggap rawan terpapar hewan penular rabies (HPR), terutama yang diakibatkan gigitan anjing. Mayoritas warga di daerah itu memelihara anjing untuk membantu melindungi lahan perkebunan atau ladang mereka dari serangan hewan buas.

“Warga yang tinggal di pinggiran hutan biasanya memelihara anjing liar. Mereka sengaja memelihara anjing untuk menjaga lahan kebun atau ladang dari serangan hewan buas,” kata Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Cianjur, Agung Rianto, kepada wartawan, Selasa (19 Februari 2019).

Namun kondisi itu kontradiktif dengan upaya pemeliharaannya. Artinya, kata Agung, anjing tersebut banyak yang tak dipelihara sebagaimana mestinya.

“Saat akan divaksinasi, hampir semua tidak ada yang mengaku memiliki anjing. Ini tentu jadi masalah,” terang Agung.

Untuk menghindari terjadinya penyebaran rabies yang disebabkan hewan HPR, terang Agung, Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Cianjur rutin melaksanakan vaksinasi termasuk eliminasi. Kurun lima tahun terakhir, Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Cianjur sudah memvaksinasi HPR sebanyak 29.090 ekor dan mengeliminasi sebanyak 3.480 ekor.

Rinciannya, pada 2014 jumlah HPR yang divaksinasi sebanyak 4.410 ekor dan dieliminasi sebanyak 923 ekor, pada 2015 divaksinasi sebanyak 7.376 ekor dan dieliminasi sebanyak 1.133 ekor, pada 2016 HPR yang divaksinasi sebanyak 5.583 ekor dan dieliminasi sebanyak 623 ekor, pada 2017 HPR yang divaksinasi sebanyak 5.505 ekor dan dieliminasi sebanyak 350 ekor, dan pada 2018 HPR yang divaksinasi sebanyak 6.216 ekor dan dieliminasi sebanyak 451 ekor.

Upaya eliminasi dilakukan dengan cara memberikan racun. Semestinya eliminasi dilakukan dengan cara dibius, tapi harganya relatif mahal.

Kasus gigitan HPR di Kabupaten Cianjur terakhir terjadi pada 2015. Lokasi kejadiannya berada di Kecamatan Takokak dengan jumlah korban 2 orang.

“Mereka digigit anjing rabies. Pada 2001 juga terjadi 1 kasus gigitan anjing rabies di Kecamatan Sindangbarang dan pada 2004 terjadi 1 kasus gigitan anjing rabies di Kecamatan Parungkuda,” tuturnya.

Rabies merupakan penyakit menular strategis. Sebab, jika terdapat korban gigitan HPR, maka bisa mengakibatkan kematian.

“HPR itu tidak hanya anjing, tapi juga monyet. Kalau ada manusia yang digigit HPR kita langsung memberikan AVR (Antivirus Rabies) atau SVR (Serum Virus Rabies). Kami juga lakukan eliminasi karena ketika terjadi kasus gigitan HPR tidak ada masyarakat yang mau mengaku memilikinya,” terang Agung.

Perkembangbiakan virus rabies biasanya akan cukup lama. Kondisi itu tergantung dari bagian tubuh yang kena gigitan HPR.

“Perjalanan virus rabies berlangsung cukup lama, bisa setahun atau bahkan dua tahun. Jadi, misalnya hari ini ada yang digigit, hari ini juga meninggal dunia. Ada prosesnya dulu,” sebutnya.

Program vaksinasi dan eliminasi terus dilakukan Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Cianjur hingga kini. Pun sosialisasi kepada masyarakat melalui Pusat Kesehatan Hewan di wilayah selatan, tengah, dan utara.

“Tetap kami lakukan program-program yang sifatnya antisipatif,” tandasnya. (daz)

Comments

comments