Derita Alif Tak Mendapat Perhatian Pemerintah

0
94

CIANJUR, patas.id – Alif Maulana hanya dapat tergolek lemas dan tak berdaya dipangkuan ibunya, saat menunggu pemeriksaan dari dokter di Poliklinik RSUD Cianjur, Selasa (27 Maret 2018).

Alif yang berusia 10 tahun itu memang rutin dan hampir setiap pekan harus melakukan kontrol ke rumah sakit milik Pemkab Cianjur karena penyakit yang dideritanya sejak lahir.

Anak pertama dari pasangan suami istri Suhendi (39 tahun) dan Ayi Susanti (38 tahun), warga Kampung Pasir Waru RT 004/RW 006, Desa Sukaraharja, Kecamatan Cibeber, itu kondisinya sangat memperihatinkan. Di usianya yang menginjak 10 tahun, Alif hanya memiliki bobot badan sekitar enam kilogram.

Bahkan, kondisi fisik Alif pun berbeda dari anak-anak sebayanya. Dengan selang yang harus terus menempel di hidungnya, anak dari keluarga prasejahtera itu hanya dapat menghabiskan waktu di atas tempat tidur dengan pengawasan dari sang ibu.

Diceritakan sang ibu, Ayi Susanti, kondisi Alif itu terjadi sejak lahir. Menurut Ayi, sesaat setelah dilahirkan anaknya itu mengalami kejang-kejang. Namun, kondisi itu tak membuat dirinya panik, karena sang anak dapat kembali sembuh.

Seirung berjalannya waktu, ungkap Ayi, pertumbuh anak pertamanya itu sangat lambat dan berbeda dengan anak-anak seusianya. Bahkan, di usia yang ketiga tahun anaknya itu sempat mendapatkan perawatan di RSUD Cianjur.

“Tidak ada tanda-tanda yang aneh saat dalam kandungan, semuanya berjalan baik-baik saja. Hanya, saat dilahirkan sempat mengalami kejang. Saat itu juga langsung mendapatkan penanganan bidan,” ungkap Ayi kepada wartawan, Selasa (27 Maret 2018).

Hidup hanya mengandalkan sang suami yang bekerja sebagai tukang jahit di Jakarta, Ayi mengaku sangat kerepotan dengan biaya pengobatan yang harus dikeluarkan bagi anak lelakinya itu. Sebab, meskipun hidup sebagai keluarga prasejahtera, namun Ayi dan keluarganya tidak mendapatkan jaminan kesehatan gratis dari pemerintah.

“Untuk dapat membawa anak saya kontrol ke rumah sakit, saya harus lebih dulu mengumpulkan uang dari kerja serabutan. Sebab, jika mengandalkan kiriman dari suami tak pernah menentu, itu pun hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari,” ungkap Ayi.

Jika dalam setiap pekan dana untuk berobat anaknya itu tidak juga terkumpul, sambung Ayi, dirinya terpaksa meminjam kepada tetangga. “Setiap berobat menghabiskan ratusan ribu rupiah, sudah tak terhitung berapa pinjaman saya ke tetangga, untuk biaya berobat. Karena, keluarga saya tidak mendapatkan jaminan kesehatan gratis dari pemerintah,” ucapnya.

Ayi mengharapkan, adanya bantuan dari pemerintah atau dermawan untuk membantu meringankan biaya berobat anaknya itu. “Mohon kepada pemerintah perhatikan nasib kami warga miskin yang benar-benar membutuhkan biaya untuk kesembuhan anak saya,” pungkasnya.(wan)

Comments

comments