RSUD Pagelaran Kebanjiran Pasien Penyakit Jiwa

0
303

CIANJUR, patas.id – Direktur Utama RSUD Pagelaran, Neneng Efa Fatimah, mengungkapkan bahwa sejak awal dibukanya pelayanan, pasien dengan gangguan jiwa serta gangguan mental dari berbagai kecamatan di wilayah Cianjur selatan banyak berdatangan untuk berobat.

“Di Cianjur selatan memang banyak yang mengalami gangguan jiwa, baik yang baru tahap awal ataupun yang sudah akut. Hal itupun terdata saat saya di Dinas Kesehatan,” ujarnya seraya menambahkan bahwa¬†berdasarkan data tersebut, pihaknya langsung menyiapkan tenaga kesehatan jiwa.

Meskipun jumlah tenaga kesehatan jiwa baru satu orang, Neneng Efa menilai masih mampu untuk menangani pasien yang datang setiap harinya.

“Masih cukup, tapi ke depan pasti akan ditambah. Mengingat banyak di Cianjur selatan yang mengalami gangguan jiwa dan gangguan mental. Yang sudah akut pun terkadang datang ke sini untuk ditangani.”

Di masa mendatang, RSUD Pagelaran berencana membuat ruang rawat inap bagi pengidap skizofrenia atau gangguan jiwa akut. Dua puluh tempat tidur disiapkan bagi pasien yang perlu ditangani intensif atau dirawat sementara.

“Rencana kami seperti itu, mengingat banyaknya pasien yang datang. Tapi pasti direalisasikan supaya penanganan gangguan jiwa dan gangguan mental di Cianjur, khusunya wilayah selatan bisa maksimal,” ujarnya.

Sementara itu Komunitas Sehat Jiwa (KSJ) menyatakan penderita gangguan jiwa terus meningkat setiap tahunnya. Jika pemerintah tidak melakukan antisipasi atau sosialisasi tentang kesadaran warga untuk mengobati penyakit kejiwaan, maka akan banyak pengidap gangguan jiwa yang melakukan aksi nekad lantaran tak terobati.

Ketua KSJ Cianjur, Roy Anindityo, mengatakan, berdasarkan data yang dimiliki, ada 63 persen penduduk Jawa Barat yang mengalami masalah kejiwaan, sementara di Cianjur mencapai 21 persen atau 540 ribu orang, dimana dari total tersebut, 98 ribu mengalami skizofrenia atau depresi akut.

“Jumlah ini terus meningkat. Data 63 persen pun itu dari 2016 lalu, padahal pada 2013 angkanya hanya 23 persen.”

Jika dibiarkan, Roy memprediksi kondisi para ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan) akan bertambah parah menjadi depresi dan ODGJ. “Tentunya jangan sampai dibiarkan, atau akan terus meningkat setiap saat,” katanya.

Kesadaran yang rendah mengenai pengobatan masalah kejiwaan, menurut Roy, dikarenakan sosialisasi dari pemerintah yang kurang. Tidak hanya itu, tenaga medis untuk masalah kejiwaan juga belum banyak tersedia.

“Bagaimana mau menyelesaikan masalah kejiwaan jika sosialisasi kurang, tenaga medisnya pun tidak banyak. Bahkan yang ada pun tidak bekerja maksimal karena pemahaman tentang gangguan kejiwaan yang minim.”

Jika Pemkab ingin serius menangani masalah kejiwaan, maka harus siap menyediakan tenaga medis yang layak dan gencar dalam sosialisasi gangguan jiwa, termasuk penanganannya nanti.

“Jangan sampai seperti sekarang, psikiater hanya seorang, sisanya yang sudah purnabakti. Jika tidak ditangani serius, maka akan banyak warga yang bunuh diri dan dipasung lantaran mengalami gangguan jiwa serta depresi,” pungkasnya. (isl)

Comments

comments