Awal 2017, Cianjur Mencatat Penambahan 17 Pengidap HIV/AIDS

0
237

CIANJUR, patas.id – Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur mencatat ada penambahan 17 pengidap HIV/AIDS baru selama kurun waktu Januari sampai Februari. Sembilan dari belasan ODHA baru itu merupakan pelaku seks menyimpang atau laki-laki suka laki-laki (LSL).

Pengelola Program HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Cicih Kurniasih, mengatakan, ‎HIV/AIDS di Cianjur memang sudah dinilai tinggi, angka belasan dalam awal tahun menandakan akan ada penambahan lebih banyak di tahun ini.

“Tahun lalu ada 142 ODHA baru, sekarang di awal tahun sudah 17 orang. Kemungkinan bisa banyak di tahun ini. Yang memprihatinkan, ada juga anak-anak yang mengidap HIV/AIDS. Biasanya mereka ditularkan orangtuanya.”

Cicih mengungkapkan, saat ini jumlah pengidap HIV/AIDS tidak hanya didominasi para pelaku seks bergonta-ganti pasangan, namun juga pelaku seks menyimpang. Hampir 30 persen pengidap HIV di tahun lalu, merupakan LSL. “Tahun lalu pengidap ODHA yang LSL tercatat 42 orang. Tahun ini dari 17, ada 9 yang merupakan LSL. Lebih dari 50 persennya,” kata dia.

Menurutnya, perilaku seks menyimpang memang rentan mengakibatkan seseorang mengidap HIV/AIDS. Pasalnya, penyakit yang belum ada obatnya itu ditularkan melalui sperma dan darah.

“Dengan memasukan alat vital ke dubur, tentu itu lebih beresiko. Makanya perilaku seks menyimpang ini mesti diantisipasi supaya pertumbuhan HIV/AIDS di Cianjur bisa ditekan.”

Di samping itu, lanjut dia, pihaknya tahun ini tengah mengencarkan program tes HIV/AIDS bagi ibu hamil dan pasangan yang hendak‎ menikah. Hal itu bisa mengantisipasi dini penyebaran HIV/AIDS.

“Jangan sampai ketika orangtuany‎a terkena (HIV) dan hamil, anaknya ikut terkena. Begitupun yang calon menikah, jangan sampai menularkan kepada pasanganannya. Program tes HIV/AIDS adalah upaya pencegahannya. Ini bukan untuk memutuskan hubungan, tapi urusan kejujuran. Kalaupun tetap melanjutkan, bisa dicegah dengan obat dan alat agar tak menular,” kata dia.

Sementara itu Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Cianjur, Hilman, mengatakan bahwa dari hasil pendataan yang dilakukan sejak 2005 sampai 2016, tercatat ada 655 ODHA di Cianjur, 8 di antaranya merupakan anak usia 3 sampai 9 tahun, 12 orang di usai 10 sampai 18 tahun dan ratusan lainnya berada di umur 18 sampai 40 tahun.

Jika dikelompokkan berdasarkan penyebab, ODHA di Cianjur 88 persen karena hubungan seksual dengan gonta-ganti pasangan serta seks menyimpng, 11 persen karena penyalahgunaan narkoba dengan jarum suntik, dan 1 persen faktor turunan. “Jadi banyak faktor, dan dimungkinkan meningkat. Bahkan tercatat yang di bawah umur 17 tahun ada 20 orang. Jadi anak juga rentan menjadi korban dari perilaku menyimpang orangtuanya.”

Hilman menambahkan, adanya temuan 17 ODHA baru di Cianjur selama 1,5 bulan di awal 2017 ini memiliki dua sisi bertolak belakang. Sisi baiknya banyak yang berani melapor dan melakukan uji HIV/AIDS, tapi di sisi lain jadi tamparan, sebab ternyata jumlahnya cukup banyak. “Ya ada baik buruknya. Terpenting ke depan harus ada koordinasi lebih untuk mengantisipasi penyebaran HIV/AIDS di kota santri,” tandasnya. (isl)

Comments

comments