Misteri Buah Penyebab Keracunan Otak di India Terungkap!

0
301

MUZAFFARPUR, patas.id – Misteri yang menyelubungi penyebab anak-anak di India jatuh sakit dan menderita kerusakan otak mematikan setiap musim panas akhirnya terungkap. Berdasarkan laporan terbaru para peneliti (bisa dibaca di SINI) penyebab keracunan otak tersebut tak lain adalah buah leci.

Perkebunan buah leci tersebar luas di wilayah Muzaffarpur, India, dimana penyakit kelainan otak tersebut mewabah di kalangan anak-anak. Sejak tahun 1995, telah dilaporkan bahwa sebagian anak-anak di wilayah tersebut jatuh sakit dan menderita kejang-kejang, terutama di pagi hari. Sebagian anak menderita koma, 40% di antaranya meninggal. Wabah yang misterius ini biasanya berawal pada pertengahan Mei hingga akhir Juli, bertepatan dengan musim panen buah leci.

Meskipun telah banyak penelitian dilakukan selama bertahun-tahun, para peneliti masih kesulitan menjelaskan secara tepat fenomena penyakit yang misterius itu. Baru-baru ini, para peneliti membentuk sebuah tim riset gabungan untuk menganalisa sebanyak 400 kasus anak-anak yang terkena penyakit kerusakan otak tersebut dan membandingkannya dengan 100 anak lain yang tidak sakit pada waktu yang bersamaan.

Hasil analisa lewat sampel yang diambil dari darah dan cairan tulang belakang menunjukkan bahwa 400 anak yang sakit tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi, juga tidak terpapar pestisida. Namun anak-anak ini diketahui mengonsumsi buah leci sebelum jatuh sakit atau mengaku bermain di perkebunan leci.

Dari pemeriksaan urine kemudian ditemukan bukti bahwa 2/3 anak-anak yang sakit tersebut terkena racun yang terdapat dalam biji leci. Zat racun dalam leci yang bernama hypoglycin dan methylenecyclopropyl glycine tersebut terkandung dari buah leci yang belum matang.

Masalahnya, sebagian anak-anak yang sehat juga mengonsumsi buah leci pada waktu bersamaan. Mengapa mereka tidak ikut keracunan dan menderita kerusakan otak? Para peneliti berpendapat bahwa pasti ada faktor lain yang membuat pengonsumsi leci sakit.

Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa anak-anak yang menderita sakit ternyata memiliki kadar gula rendah, memiliki masalah metabolisme tubuh, serta yang terpenting. tidak makan malam sehari sebelum mengonsumsi leci di pagi hari. Dengan kata lain, anak-anak yang sakit tersebut mengonsumsi leci saat perut sedang kosong.

Saat anak tidak makan malam, kadar gula mereka menurun. Saat kadar gula menurun, tubuh secara otomatis akan memerintahkan asam lemak dalam tubuh untuk memproduksi glukosa. Namun, racun hypoglycin dan methylenecyclopropyl glycine dalam buah leci menghambat proses tersebut. Akibatnya, kadar gula akan turun drastis dan menyebabkan terjadinya kejang serta radang otak pada anak.

Dengan penelitian ini, terungkap sudah misteri mengapa sebagian anak yang mengonsumsi leci jatuh sakit, sementara yang lain tidak, meskipun mereka mengonsumsi leci di kebun pada saat yang bersamaan. Hasil penelitian tersebut dilaporkan dalam Jurnal Kesehatan Lancet Global Health edisi 30 Januari 2017.

“Kombinasi sinergis antara mengonsumsi leci, tidak makan malam, serta faktor lain seperti kurang gizi menghasilkan penyakit radang otak pada sebagian anak di wilayah Muzaffarpur.”

Pasca penelitian, para pakar kesehatan tersebut memberikan rekomendasi agar anak-anak di wilayah Muzaffarpur membatasi konsumsi leci saat perut sedang kosong. Orang tua juga diminta agar mengawasi pola makan anak dan menyediakan makan malam untuk mencegah kasus tersebut berulang. (cho)

 

Comments

comments