Operasi Cesar, Seleksi Alam dan Evolusi Genetis

0
237

PATAS.ID – Proses kelahiran melalui operasi Cesar (Cesarean section/C-section) menjadi proses yang banyak dipilih oleh kaum ibu, terutama di kota-kota besar di negara maju. Di Amerika Serikat, 30% kelahiran dilakukan melalui C-section yang dianggap lebih praktis dan tidak menyakitkan, ketimbang proses kelahiran normal.

Namun belakangan, muncul kontroversi. Sebuah hasil penelitian yang dilakukan di Austria menyebutkan bahwa semakin maraknya C-section akan menyebabkan evolusi genetis. Seperti diketahui, awalnya C-section dilakukan sebagai tindakan darurat bagi para ibu berpinggul kecil yang mengandung bayi berkepala besar. Di jaman dulu, proses kelahiran semacam ini bisa mengakibatkan terenggutnya nyawa ibu/anak. C-section mempermudah proses kelahiran dan menyelamatkan nyawa ibu berpinggul kecil dan anak berkepala besar.

Namun masalahnya, menurut hasil penelitian tersebut, C-section secara tidak langsung mempertahankan gen anak berkepala besar dan berpinggul kecil. Tak ada lagi proses seleksi alam. Karena gen ini diturunkan, maka akan semakin banyak manusia yang memiliki kepala besar dan pinggul kecil. Logikanya, secara matematis, C-section akan semakin banyak dilakukan di masa mendatang.

Peneliti Phillip Mitteröcker, seorang pakar evolusi biologi dari Universitas Vienna, menyebutkan bahwa hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) minggu ini.  “Namun belum teruji secara empiris, kamu masih perlu mengadakan penelitian lanjutan,” ujarnya.

Hasil penelitian tersebut dianggap cukup masuk akal oleh dr. Mari Charisse Banez Trinidad, seorang pakar kandungan di Mayo Clinic.

 “Nampaknya asumsi tersebut cukup beralasan. Lihat saja tingkat obesitas yang sekarang melanda negara dan seluruh dunia. Ini bisa jadi masalah genetis. Jika kita bertubuh besar, anak-anak kita juga cenderung bertubuh besar, ukuran bayi pun semakin besar. Sangat logis jika kita berpendapat bahwa bayi bertubuh besar akan sulit dikeluarkan lewat pinggul yang kecil. Akibatnya, gen pinggul kecil terus berlanjut, demikian juga dengan gen tubuh besar. Mau tak mau kita terpaksa melakukan proses kelahiran lewat C-section.”

Namun di pihak lain, harus diakui bahwa C-section juga sering “dijual” oleh pihak medis dengan alasan ibunya berpinggul kecil, melahirkan secara normal bisa berbahaya, dan lain-lain. Padahal, lanjut Trinidad, sepanjang umur peradaban manusia, banyak perempuan berpinggul kecil yang selamat dari proses kelahiran bayi berkepala besar. Meski begitu, Trinidad tak menampik teori Mitteröcker dan kawan-kawan.

Di luar Amerika, tingginya angka C-section telah menjadi masalah yang mendapat perhatian banyak pihak. American College of Obstetrics and Gynecologists telah berusaha mendampingi ibu-ibu hamil dan menyarankan mereka agar melakukan proses kelahiran secara normal. Mereka juga mengkritik kebijakan rumah sakit yang cenderung menyarankan C-section pada pasien meskipun sebenarnya mampu melahirkan dengan proses tradisional.

“Bayi berkepala atau bertubuh besar besar juga bisa dilahirkan secara normal,” ujar Trinidad. “Saat proses kelahiran, umumnya kepala dan tubuh bayi bisa menyesuaikan diri dengan besarnya saluran lahir. Meski begitu, memang ada kasus dimana bayi sulit keluar hingga ada salah satu pihak (ibu atau anak, red) yang terpaksa harus dikorbankan.” (cho)

 

Comments

comments