Kanker Rahim Rentan Menyebar di Wilayah Pantai

0
286

CIANJUR, patas.id – Kanker serviks atau kanker rahim rentan menyebar di wilayah pantai dan wilayah lainya yang terjadi aktivitas seks tinggi, terutama yang sering bergonta-ganti pasangan. Sosialisasi secara intensif dan pola hidup sehat dapat mencegahnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari World Health Organization (WHO), setiap tahunnya 490.000 perempuan di dunia didiagnosa menderika kanker serviks, dan 240.000 di antranya meninggal. Bahkan 80% kasus kanker rahim terjadi di negara berkembang seperti Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Plt Direktur Rumah Sakit Pagelaran, ‎Eva Fatimah, saat ditemui dalam seminar “Penanganan Kanker Serviks dan Tes IVA” di Aula Makodim 0608 Cianjur, Selasa (22 November 2016). Menurutnya, kanker rahim tersebut rentan terjangkit dengan aktivitas seksual yang tinggi, terlebih jika bergonta-ganti pasangan.

“Makanya wilayah pantai itu menjadi yang rawan, seperti halnya di Kecamatan Cidaun. Kemungkinan Cianjur utara juga, sebab aktivitas seks yang tinggi menjadi faktor utama, terlebih jika dengan pasangan berbeda, kalau hanya dengan suami resikonya kecil.”

‎Faktor genetik, lanjut Eva, juga menjadi penyebab seorang wanita menderita kanker serviks. Munculnya kanker pun bisa berlangsung cepat atau lambat, tergantung pada ketahanan tubuh. “Bisa dalam waktu bulanan atau tahunan, tergantung dari ketahanan tubuhnya. Jika lemah maka fase-fasenya akan cepat.”

Namun hal itu dapat dicegah dengan mengubah pola hidup warga Cianjur. Di antaranya dengan menjaga pola hidup bersih dan sehat, serta higienis. “Selain itu tentunya menggunakan vaksin tertentu. Bahkan dengan metode itu, kemungkinan terjaring dari faktor genetik bisa diputus,” ujar Eva.

gejala-kanker-rahimPara bidan akan terus diberdayakan dalam menyosialisasikan gerakan pencegahan serta penanganan kanker serviks di Cianjur. “Tentu mereka menjadi media utama dalam pencegahan. Makanya ke depan akan diberdayakan secara maksimal.”

Dr. Andi Handi Ardaya dari Yayasan Kanker Indonesia cabang Cianjur, mengatakan bahwa ‎kanker serviks sngat berbahaya bagi seorang ibu. Bahkan operasi pun tidak akan menyembuhkan secara total, dalam fase beberapa tahun kanker akan kembali muncul.

“Jadi setelah dioperasi tetap tidak hilang, melainkan ditidurkan sementara penyakitnya. Dalam jangka waktu lima tahun ada kemungkinan kembali muncul.”

Andi menambahkan bahwa resiko kanker serviks juga rentan terjadi pada ibu yang memiliki anak lebih dari lima. “Banyak faktor yang menyebabkan, tapi yang paling utama karena virus,” kata dia.

Menurutnya, harus ada upaya langsung dari keluarga dekat dalam mencegah menjangkitnya kanker serviks. Bagi suami, lanjut dia, harusmenjaga diri agar tidak jajan atau berhubungan seks sembarangan perempuan atau gonta ganti pasangan.

“Setia dan jujur pada pasangan, jangan sampai perilaku menyimpang berdampak pada pasangan kita sendiri.”

Selain itu, peran orangtua juga penting apalagi b‎agi pergaulan anaknya. Menurutnya, fenomena seks bebas di kalangan remaja menjadi hal yang rentan menimbulkn kanker serviks pada kemudian hari. “Peran orangtua sangat penting, segala tingkah laku anak di luar rumah adalah tanggungjawab orangtua. Jika semua pihak sudah singkron, maka kanker serviks bisa ditekan,” kata dia. (isl) ‎

Comments

comments