Tangan Kecil Bocah-bocah Kongo Ini Menggali Kobalt untuk Baterai Ponsel Kita

0
283

KONGO, patas.id – Sebuah investigasi yang dilakukan Sky News mengungkap fakta yang memiriskan hati. Di Kongo, ribuan bocah menjadi budak pekerja dalam penggalian kobalt, salah satu bahan utama pembuat batu baterai.

Kobalt merupakan bahan utama pembuatan batu baterai ponsel, kamera, laptop, serta kendaraan elektrik yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Sebagian besar suplai kobalt dunia didapat dari Kongo. Di negara yang terletak di Afrika Tengah tersebut, terdapat ribuan penggali kobalt liar terdiri dari para perempuan dan anak-anak.

Salah satunya adalah Dorsen (8 tahun) yang tak beralas kaki dan mengaku sudah 2 hari kelaparan meskipun telah bekerja selama 12 jam setiap harinya. Bayaran yang dia terima memang jauh dari mencukupi, yakni sekitar 8 pence atau $0,10 dolar atau sekitar Rp 1.300 setiap harinya. Teman Dorsen, Richard (11 tahun), mengaku mengalami pegal-pegal dan sakit badan karena harus memanggul berkarung-karung kobalt untuk dipilah.

Dorsen, Richard, dan ratusan ribu penggali tradisional kobalt tak punya pilihan lain. Kongo adalah negara yang kaya akan kobalt namun hak penambangannya telah diberikan pada asing hingga warga setempat hanya menjadi pekerja yang diperlakukan secara tak manusiawi.

Meskipun berhubungan langsung dengan zat kimiawi, misalnya, para penggali kobalt tradisional ini tak diberi alat pengaman seperti helm, masker atau sarung tangan. Tak jarang mereka serta harus keluar masuk terowongan/gua yang tak punya sistem penopang hingga seringkali menimbulkan korban jiwa, terutama di musim hujan. Air minum yang tersedia pun jadi tercemar akibat penambangan berat.

Tak hanya itu saja. Karena sebagian besar perempuan ikut bekerja dalam keadaan hamil, banyak anak-anak yang terlahir di Kongo mengalami kelainan.

Becha Gibu, seorang dokter di Kampung Kimpesa, mengatakan bahwa banyak penyakit misterius yang menimpa para pekerja tambang. “Banyak bayi-bayi yang lahir dengan kulit ruam atau berbercak karena ibu mereka tak berada dalam kondisi fit saat melahirkan.”

Salah seorang pekerja yang ditemui Sky News, Makumba Mateba, memiliki tumor besar di kerongkongannya. Mateba percaya tumor tersebut tumbuh karena setiap hari dia meminum air yang tercemar. “Kami sekampung hanya meminum air yang datang dari tambang, sisa-sisa membersihkan mineral. Air itu mengalir melalui kampung kami dan aku meminumnya. Aku yakin itulah sebabnya aku sakit begini.” (cho)

Comments

comments