Facebook Menghadapi Gugatan Hoax di Jerman

0
307
BERLIN, GERMANY - FEBRUARY 24: The Facebook logo is displayed at the Facebook Innovation Hub on February 24, 2016 in Berlin, Germany. The Facebook Innovation Hub is a temporary exhibition space where the company is showcasing some of its newest technologies and projects. (Photo by Sean Gallup/Getty Images)

JERMAN, patas.id – Facebook menghadapi tuntutan hukum di Jerman sehubungan dengan adanya keluhan lantaran media sosial tersebut membiarkan tersebarnya berita palsu alias hoax mengenai seorang pengungsi Suriah yang yang memposting swafoto/selfie bersama Kanselir Jerman, Angela Merkel.

Pengacara Chan-jo Jun dari Wurzburg, Bavaria, mengungkapkan bahwa kliennya, Anas Modamani (19 tahun) asal Damaskus, memperjuangkan haknya agar tidak dituduh melakukan kejahatan tanpa bukti. Surat gugatan telah dilayangkan Jun, sementara dengar pendapat pengadilan baru dilaksanakan Senin (6 Februari 2017) nanti.

Kasus bermula saat Modamani berswafoto bersama kanselir Merkel pada September 2015 di pusat pengungsian Jerman di Spandau, Berlin. Modamani kemudian memposting foto tersebut di akun Facebook-nya dan menuai banyak jempol dan komentar, menjadi viral. Modamani pun menjadi pengungsi yang terkenal.

 

Namun enam bulan kemudian, saat terjadi serangan teroris di Bandara Brussels pada bulan Maret 2016, foto Modamani kembali menyebar. Sayangnya, kali ini karena kebetulan pelaku pengeboman yang sesungguhnya, Najim Laachraoui asal Maroko, memiliki wajah yang mirip dengan Modamani. Dalam berita yang tersebar itu, foto jadul Modamani dan Merkel diberi tulisan: “Merkel selfie with Brussels terrorist.”

Meskipun pelaku pengeboman telah ditangkap, namun foto tersebut masih terus menyebar di Facebook dan membuat Modamani ketakutan. Selain itu, pada hari Natal kemarin (25 Desember 2016), muncul berita lain yang menyebar di Facebook bahwa Modamani membakar gelandangan di stasiun kereta Berlin. Meskipun kemudian 7 pelaku pembakaran berhasil ditangkap, namun berita palsu itu tetap bergulir tanpa ada tindakan dari manajemen Facebook. Padahal, biasanya Facebook rajin menyortir berita tertentu yang dianggap hoax, seperti pada saat pemilihan presiden Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

“Bagi Facebook, berita palsu dan penghujatan rupanya tidak dianggap sebagai pelanggaran atas norma bermasyarakat. Sepanjang yang saya ketahui, ini adalah gugatan pertama terhadap Facebook yang dilakukan di Jerman,” ujar Jun. Dengan kata lain, menurut Jun, harusnya Facebook mengikuti aturan-aturan negara dimana pemilik akun tinggal.

Selain menuntut Facebook, Jun juga melayangkan gugatan pada partai Alternative for Germany (AfD), yang telah menyebarkan berita palsu mengenai kliennya tanpa berusaha mengecek kebenarannya terlebih dahulu. Anas Modamani sendiri kini tinggal bersama keluarga angkatnya di Berlin dan mengaku sedih dan shock atas berita palsu tentang dirinya yang menyebar di Facebook. “Aku hanya ingin hidup dengan damai di Berlin,” ujarnya. (cho)

Comments

comments