Berkas Perkara Pencabulan oleh Pemuka Agama Dilimpahkan ke PN Cianjur

0
83

CIANJUR, patas.id – Berkas perkara kasus pencabulan 7 anak di bawah umur oleh calon pemuka agama di Kabupaten Cianjur sudah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Cianjur. Rencananya, sidang pertama akan digelar awal Agustus 2019 mendatang.

Kuasa hukum para korban, Abdurrahman Syarief, menjelaskan, pihaknya siap mengawal dan memberikan pembelaan untuk kasus yang terungkap berkat laporan orangtua korban ke Kepolisian Daerah Jawa Barat ini.

“Iya, berkasnya sudah lengkap dan sudah dilimpahkan dari Kejaksaan Negeri Cianjur ke Pengadilan Negeri Cianjur. Kasus ini segera disidangkan awal Agustus mendatang,” ujar Abdurrahman di Cianjur, Kamis (25 Juli 2019).

Menurut Abdurrahman, karena korbannya di bawah umur, sidang akan digelar secara tertutup. “Karena korbannya di bawah umur, sidang dilakukan tertutup,” kata dia.

Bagus Taradipa, anggota tim investigasi dari Indonesia Law Enforcement, menjelaskan, tersangka berinisial TLS, 25 tahun, yang diduga telah melakukan tindak pidana persetubuhan dan pencabulan terhadap tujuh orang anak di bawah umur sempat mengaku sebagai rasul dan nabi.

Bahkan, tersangka TLS yang diketahui sebagai motivator dan juga calon pemuka agams itu juga mengaku memiliki kedekatan dengan sejumlah pejabat tinggi negara.

“Kami akan terus mengawal proses hukum dari tersangka tersebut. Selain itu, pihaknya juga berencana meminta klarifikasi dari sejumlah pejabat tinggi negara yang diakui memiliki kedekatan khusus oleh tersangka TLS,” kata Bagus.

Berdasarkan penelusuran dari akun IG @yesaya26, tersangka banyak memposting foto-foto bersama pejabat tinggi seperti Menkumham Yasona Laoly, Menteri KKP Susi Pujiastuti, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh. Bahkan ada foto bersama Presiden RI Joko Widodo.

“Foto-foto itu diduga digunakan tersangka untuk menakut-nakuti calon korbannya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan foto tersebut digunakan untuk mendapatkan keuntungan secara materi,” kata Bagus.

Bagus menyebutkan, orangtua dari para korban hingga kini masih terpukul atas kejadian yang menimpa anak mereka. Bahkan, keluarga dan para korban masih trauma untuk datang ke tempat peribadatan.

“Makanya, kami berterima kasih kepada jajaran Polda Jawa Barat, Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, dan Kejaksan Negeri Cianjur yang telah mampu memproses perkara tersebut hingga tahap P21. Kami melihat kasus ini bukan dari sisi agama atau SARA, tapi murni kriminal yang membuat korbannya mengalami trauma,” ujar Bagus.

Sementara itu, Reini, 38 tahun, orangtua korban sekaligus pelapor mengaku baru tahu anaknya jadi korban pencabulan di awal tahun 2019. Padahal kejadiannya telah berlangsung sejak 2014 silam.

“Saya juga tahunya dari orangtua korban lainnya. Tapi mereka takut melapor karena diancam sanksi sosial oleh orangtua pelaku yang merupakan pemuka agama kami,” kata Reini.

Reini menyebutkan bahwa selama ini pelaku mengakui anak-anak itu sebagai anak rohani yang harus dibimbing. Dia sendiri bukan pemuka agama di tempat peribadatan.

“Orangtuanya memang pemuka agama yang sah di tempat kami, tapi anaknya bukan. Dia hanya sering mengisi ceramah sebagai motivator. Jaringannya luas hingga ke luar negeri, makanya jemaatnya pun banyak yang berasal dari luar Cipanas,” tutur Reini. (daz)

Comments

comments