Klasik, Dijanjikan Kerja di Kedai, ke Malaysia jadi Pembantu

0
67

CIANJUR, patas.id – Rima Setiawati (19 tahun), warga Kampung Tugusari, Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, yang dikabarkan menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) ke Malaysia, saat ini sudah berkumpul kembali dengan keluarganya di Cianjur.

Rima mengaku berangakat ke negeri jiran itu pada 28 Desember 2018 lalu dengan iming-iming kerja di kedai menjadi pelayan dan gaji menggiurkan oleh calo (sponosor) Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia asal Bandung berinisial UL.

“Awalnya saya ditawari untuk bekerja di kedai oleh sponsor, namun kenyataannya jadi pembantu rumah tangga, “kata Rima di Cianjur, Kamis 20 Juni 2019.

Rima menceritakan, dari awal berangkat pun sudah curiga karena sponsor bukan membawanya ke tempat penampungan perusahaan, tapi ke rumah kontrakan di Jakarta. Bahkan, Rima mengaku kaget saat pengajuan paspor ke Kantor Imigrasi Bogor dua kali ditolak.

“Karena saat ditanya usia oleh petugas pembuat paspor, saya jawab 19 tahun,” tutur Rima.

Setelah dua kali bolak-balik ke Kantor Imigrasi, ketiga kalinya Rima pun lolos. Saat ditanya usia, Rima dituakan dari 19 tahun menjadi 23 tahun oleh pihak agen di Jakarta. “Ya, saya juga heran kok umur saya dituakan,” ujarnya.

Setelah membuat paspor dan empat hari berada di rumah kontrakan di Jakarta, Rima dibawa ke Batam menggunakan pesawat terbang. Namun, tiba di Batam Rima dibiarkan berangkat sendiri ke Malaysia menggunakan kapal laut.

“Saya dari Jakarta menuju Batam naik pesawat terbang, tapi dari Batam ke Malaysia nyeberang menggunakan kapal laut,” kata dia.

Setibanya di Malaysia Rima tidak langsung dipekerjakan, tapi tinggal lagi di rumah agen bernama Katini. Alasannya menunggu jemputan majikan. Ironisnya, setelah dijemput majikan dan 4 hari kerja, Rima dikembalikan ke agen dengan alasan pihak majikan tidak mau mempekerjakan anak di bawah umur.

“Katanya muka kamu masih anak-anak jadi majikan ketakutan,” kata Rima.

Rima menjelasakan, setelah majikan pertama tidak cocok, dia ditawarkan lagi ke majikan kedua untuk mendapatkan pekerjaan. Akhirnya Rima pun bekerja selama 4 bulan. Namun pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan yang telah dijanjikan sebelum berangkat, sehingga akhirnya Rima menghubungi orangtuanya.

“Karena di sini kerjanya jadi pembantu rumah tangga, saya langsung telepon orangtua ingin pulang ke Indonesia,” jelasnya.

Setelah mendapat informasi, kedua orangtua Rima pun kaget dan sempat kebingungan meminta bantuan. Akhirnya Ujang Saepudin (38 tahun), ayah kandung Rima, meminta bantuan ke DPC Astakira Kabupaten Cianjur untuk memulangkan putrinya tersebut.

Ketua Harian DPC Astakira Pembaharuan Kabupaten Cianjur, Supyan, mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti kasus yang menimpa Rima tersebut dengan membuat laporan ke Polres Cianjur.

“Kasus ini sudah termasuk TPPO. Karena itu sudah terjadi, bahkan lihat dari dokumen pun dipalsukan,” kata Supyan.

Supyan menegaskan, selain dari proses pemberangkatan yang bermasalah, berdasarkan pengakuan Rima, gajinya selama 4 bulan bekerja tidak diberikan.

“Pengakuannya, yang satu bulan dibelikan tiket, sementara sisanya 3 bulan tidak dibayarkan,” ucap Supyan. (daz)

Comments

comments