Garis Janji Berantas Hoaks Selama Pileg dan Pilpres

0
116

CIANJUR, patas.id – Gerakan Reformis Islam (Garis) Cianjur menggelar deklarasi anti paham radikalisme dan terorisme di Ponpes Nurul Hidayah, di Kampung Palalangon, Desa Sindangraja, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Minggu (2 September 2018). Selain itu, dihadapan tim dari Direktorat Keamanan Negara (Kamneg) Badan Intelijen dsn Keamanan Mabes Polri, Garis juga mendukung Pileg dan Pilpres 2019 aman dan bersih dari isu SARA.

Pimpinan Garis Kabupaten Cianjur, Chep Hernawan, menuturkan, selama ini ada oknum yang mendalangi dan mempetakonflikkan pihaknya. Garid, kata dia, diidentikkan dengan gerakan radikal, bahkan disebut sarang teroris.

“Oleh karena itu, pada momentum ini kami mengumpulkan aktivis serta ulama dan berjanji di hadapan perwakilan dari Mabes Polri agar mempersatukan visi misi untuk tidak memecah belah bangsa. Kami dukung pileg dan pilpres aman, tanpa fitnah serta ujaran kebencian,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (2 September 2018).

Melalui kesatuan dan persatuan, kata dia, keutuhan NKRI bakal terjaga. Kemudian, umat pun tidak akan terpecah-belah dan saling bermusuhan satu sama lain.

“Kami siap menolak segala sesuatu hal yang condong serta mengarah untuk memicu memecah-belah bangsa. Termasuk salah satunya menghalau informasi-informasi hoaks yang sumbernya tidak jelas,” jelas Chep.

Chep menambahkan, keseriusan pihaknya menyikapi deklarasi ini akan ditunjukan melalui serangkaian langkah ke depan. Garis bakal menyosialisasikan gerakan menolak paham radikal dan terorisme kepada pesantren-pesantren binaannya.

“Ponpes yang kami bina, tentunya akan kami berikan arahan sesuai materi yang diberikan oleh Kamneg Baintelkam Mabes Polri,” terangnya.

Dirkamneg Baintelkam Mabes Polri, Brigjen Djoko Mulyono, yang mengutus AKBP Syuhaimi sebagai perwakilan menjelaskan, kegiatan ini merupakan serangkaian tugasnya untuk menjaga keamanan negara. Keutuhan NKRI, menurutnya, terancam oleh paham-paham menyesatkan yang disebarluaskan melalui media sosial (medsos).

“Informasi hoaks, fitnah, dan paham sesat itu kenyataannya hari ini mengancan keutuhan NKRI. Maka dari itu di sini adalah tugas kami untuk mengantisipasi dan menanganinya,” paparnya.

Lembaga pendidikan tidak terkecuali pesantren, menurut Syuhaimi, adalah sasaran berkembangbiaknya paham radikalisme dan informasi hoaks. Selain itu, organisasi-organisasi serupa dijadikan sasaran empuk bagi oknum yang hendak memecah belah kesatuan.

“Tujuan kita memberikan suatu pembelajaran dan wawasan kebangsaan, dengan harapan menjaga situasi dan keamanan. Hal ini juga merupakan modal besar supaya agenda nasional untuk Pemilu 2019 bisa kondusif demi keutuhan NKRI. Inilah tugas kita untuk menetralisir, berita fitnah alias hoaks,” pungkasnya. (daz/*)

Comments

comments