Arief Todong Tukang Ojek dengan Senjata Api

0
183

CIANJUR, patas.id – Entah apa yang ada di dalam pikiran Arief Bustanil (35 tahun). Warga Jalan Sesko No 2 RT 003/RW 004 Desa Lembang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, ini malam-malam mengancam seorang tukang ojek dengan senjata api di Kampung Cibubuay, Desa Sukarama, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, pekan lalu.

Kayan Manggala (27 tahun), tukang ojek warga Kampung Cisero, Desa Sukarama, Kecamatan Bojongpicung, mengaku saat itu sekitar pukul 23.00 WIB, Sabtu (17 April 2018), ada calon penumpang yang mendatanginya meminta diantar ke hutan tempat berburu. Namun, karena sudah terlalu malam serta jalan yang harus dilalui kondisinya rusak berat, permintaan tersebut ditolaknya.

Emosi lantaran permintaannya ditolak, Arief serta-merta menodongkan senjata api jenis FN. Bukan hanya menodongkan, pelaku pun menembakkan senjatanya ke udara.

“Karena takut, saya kemudian kabur dan melaporkan kejadian tersebut ke aparat Polsek Bojongpicung,” ujar Kayan.

Kapolres Cianjur, AKBP Soliyah, didampingi Kasatreskrim Polres Cianjur, AKP Benny Cahyadi, menjelaskan, berdasarkan laporan, pelaku kemudian ditangkap dengan tuduhan membawa senjata api tanpa izin dan mengancam nyawa orang lain.

“Dari hasil pemeriksaan, pelaku mengaku memiliki senjata untuk berburu. Dari tangan pelaku kami menyita satu unit senjata pistol jenis FN, senjata laras panjang jenis Mauser, dan puluhan butir peluru berbagai ukuran,” ujar Soliyah kepada wartawan di Mapolres Cianjur, Rabu (18 April 2018).

Soliyah mengatakan, pelaku mengaku mendapatkan senjata tersebut dari seseorang bernama Soleh Anwar. “Penjual senjata itu masuk daftar pencarian orang (DPO) kami,” tukas Soliyah.

Sementara itu, Arief mengaku memiliki senjata itu untuk berburu babi hutan. Senjata FN yang digunakan untuk mengancam itu diperoleh dengan cara barter.

“Saya barter dengan seseorang. Pistol FN itu saya barter dengan senjata berburu, sedangkan senjata laras jenis Mauser dibeli seharga Rp 20 juta,” kata Arief.

Laki-laki yang mengaku pernah menjadi anggota Perbakin Kabupaten Bandung Barat ini dijerat pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat RI Nomor 12 Tahun 1951.

“Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara,” tegas Soliyah. (daz)

Comments

comments