Ratusan Pengojek Online Laporkan Kasus Penyerangan

0
162

CIANJUR, patas.id – Ratusan pengemudi ojek online (Grabb) mendatangi Polres Cianjur, Kamis (8 Februari 2018). Kedatangan mereka untuk mengawal laporan peristiwa penyerangan dan pemukulan oleh penarik ojek pangkalan sehari sebelumnya.

Berdasarkan informasi, ratusan pengemudi ojek online itu tidak hanya pengemudi dari Cianjur, tapi ada juga ojek online dari Sukabumi dan Bogor yang memberikan dukungan dan turut mengawal pelaporan pemukulan rekannya tersebut.

Ketua Pengemudi Grabb Cianjur, Yanwar Sidik, mengatakan, ada empat rekannya yang melaporkan lantaran kasus penyerangan dan pemukulan. Oleh karena itu, sebagai bentuk dukungan, mereka ikut mengawal para korban.

“Ini sebatas mengawal pelaporan, dari tujuh orang yang ada di sana, hanya empat yang mengalami luka-luka dan kehilangan barang saat penyerangan Selasa (7 Februari 2018),” kata dia.

Yanwar menegaskan, para pengemudi ojek online di Cianjur tidak akan melakukan penyerangan balik ke pengemudi ojek pangkalan. Pihaknya bakal menyerahkan sepenuhnya penyelidikan dan proses hukum ke Polres Cianjur. Bahkan semua pengemudi ditekankan untuk tetap bersikap santun saat beroperasi.

“Kami tidak akan balas menyerang, bagaimanapun itu saudara kami. Kami juga tekankan kepada semua pengemudi untuk tidak terprovokasi, biarkan proses hukum berjalan. Tapi kami mohon para pelaku diproses sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.

Yanwar mengungkapkan, sejak awal keberadaan angkutan online terutama Grab, para pengemudi ojek pangkalan sudah dicoba untuk dirangkul. Bahkan untuk sarana telepon pintar hingga kendaraan akan difasilitasi, berupa kredit ringan. Selain itu, pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) juga bakal dibantu. Sayangnya, lanjut dia, upaya tersebut belum direspon positif oleh para pengemudi ojek pangkalan.

Dia menambahkan, berdasarkan hasil komunikasi, rencananya akan ada mediasi antara ojek online dan pangkalan dengan difasilitasi Dinas Perhubungan dan Polres Cianjur. Dia berharap, pertemuan tersebut bakal memberi solusi terbaik untuk mereka dan pengemudi ojek pangkalan agar maju bersama-sama.

“Sebenarnya solusi sudah kami tawarkan, yang tidak ada telepon pintar kami fasilitasi. Begitu juga yang kendaraannya kurang layak. Bahkan mereka akan mendapat nilai tambah, selain bisa jadi ojek pangkalan juga bisa beroperasi secara online. Tapi kita lihat nanti hasil pertemuannya, semoga ada solusi yang terbaik,” ungkapnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Cianjur Rahmat Hartono mengatakan, pihak dinas akan segera memanggil perusahaan ojek online. Dia menilai, pengusaha ojek online perlu diundang lebih dulu oleh dinas terkait.

“Mereka kan pendatang, makanya akan diberitahu hal-hal yang perlu dilakukan sebagai pendatang. Sebenarnya (pemanggilan) sudah jadi rencana lama, tapi keburu bentrok duluan,” kata Rahmat.

Selanjutnya, Rahmat mengagendakan pemanggilan paguyuban ojek pangkalan untuk meluruskan gesekan yang terjadi. Menurut dia, pertemuan sengaja dilakukan terpisah agar dialog dapat berlangsung dengan lebih intens. Bahkan disebutkan sebenarnya kedua pihak sama-sama tidak memiliki legalitas sebagai penyedia jasa transportasi. Soalnya, menurut aturan kementerian pun kendaraan roda dua tidak dapat dijadikan angkutan umum.

Namun, hingga saat ini, diketahui terdapat 400 pengemudi ojek online yang terdata. “Makanya, karena terlanjur ada akhirnya kami cuma bisa menyarankan untuk lebih memperhatikan faktor-faktor keselamatan. Termasuk, untuk tidak bergesekan satu sama lain,” ucapnya.

Rahmat pun menyarankan, agar pihak perusahaan jasa terkait berhenti melakukan perekrutan pengemudi. Sebaiknya, perusahaan memberdayakan pengemudi ojek pangkalan untuk direkrut menjadi pengemudi ojek online.

“Prioritaskan mereka, tapi kalau ojek pangkalan akhirnya tetap terdegradasi itu bukan sepenuhnya kesalahan ojek online. Setidaknya coba dulu merangkul, mau atau tidak urusan belakangan,” kata dia.

Rahmat mengaku, dalam waktu dekat dishub akan membuat rencana tersendiri terkait ojek online. Namun, dia meminta kepada perusahaan agar mengajukan perizinan khususnya untuk taksi online. “Keberadaannya harus sesuai kuota yang ditetapkan pemprov. Cianjur kebagian sekitar 80 unit saja,” tutupnya. (isl)

Comments

comments