Empat Polisi jadi Saksi Sidang Kasus Saracen di PN Cianjur

0
182

CIANJUR, patas.id – Sri Rahayu terdakwa penyebar kebencian melalui media sosial yang juga anggota kelompok Saracen kembali menjalani sidang untuk ketiga kalinya, Rabu (1 November 2017).
Sidang yang digelar di Ruang Sidang Cakra, Pengadilan Negeri (PN) Cianjur berisi agenda pemeriksaan sejumlah saksi dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Empat orang saksi dari pihak JPU dihadirkan dalam sidang itu, keempatnya yaitu Jehan Septiono, Chandra Purnama, Denny Setyoko, dan Sandi. Para saksi merupakan anggota polisi dari Mabes Polri yang terlibat dalam penangkapan terdakwa beberapa waktu lalu.

Dalam sidang itu, salah seorang saksi Jehan Septiono yang pertama dimintai kesaksian oleh Majelis Hakim. Dalam kesempatan pertama itu, hakim mengajukan beberapa pertanyaan terkait proses penangkapan terdakwa oleh polisi.

Namun, dari sejumlah jawaban yang dilontarkan oleh saksi terhadap pertanyaan hakim, tim kuasa hukum terdakwa menilai saksi tidak paham dan mengerti dengan kasus yang menjerat terdakwa.

“Dari sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh Majelis Hakim, di antaranya tentang beberapa postingan yang dilakukan oleh klien kami di akun Facebooknya, dan kewenangan penyidik. Kami nilai saksi tidak paham dan kompeten dengan penanganan kasus ini,” kata kuasa hukum terdakwa, Nadia Wikerahmawati, kepada wartawan, Rabu (1 November 2017).

Nadia mengungkapkan, pihaknya juga mempertanyakan standar operasional prosedur (SOP) Kapolri dalam penanganan sebuah kasus. Dimana, sambung Nadia, penyidik harus terlebih dahulu melakukan mediasi, baik berupa peringatan ataupun teguran terhadap terdakwa.

“Saksi kami nilai tak mengerti dengan petunjuk pelaksanaan (juklak), dan petunjuk teknis (juknis) tentang penanganan perkara yang membelit klien kami,” ungkapnya.

Sementara itu, Nadia membantah saat dirinya disangkutpautkan dengan kliennya dalam kesamaan menjadi simpatisan salah satu partai politik yang selama ini dikaitkan dengan terdakwa. “Kami menangani kasus ini secara profesional, bukan karena sama menjadi simpatisan dari salah satu parpol yang selama ini dikaitkan dengan klien kami,” ujarnya.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri (PN) Cianjur kembali menggelar sidang Sri Rahayu, terdakwa penyebar kebencian melalui media sosial yang juga anggota kelompok Saracen, Senin (23 Oktober 2017).

Sidang yang kali kedua digelar itu beragendakan pemeriksaan sejumlah saksi ahli dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU). Namun, karena berbagai alasan sejumlah saksi tak jadi hadir.

Dalam sidang pertama, Sri Rahayu didakwa menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian dalam transaksi elektronik, serta menulis dan menyebarkan konten yang melanggar Undang-Undang Nomor 40/2008 tentang penghapusan diskriminasi ras atau etnis, serta menyebarkan permusuhan, kebencian, atau penghinaan melalui tulisan.

Dalam dakwaan itu, kelompok Saracen disangka membuat sejumlah akun media sosial dan media online. Akun-akun itu, antara lain Saracen News, Saracen Cyber Team, dan Saracennews.com.

Selain itu, kelompok itu diduga menawarkan jasa untuk menyebarkan ujaran kebencian bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di media sosial untuk pemesan tertentu. (wan)

Comments

comments