Tahun Ini, Jumlah Kasus Trafficking Naik Tajam

0
210

CIANJUR, patas.id – Kasus trafficking atau perdagangan manusia di Kabupaten Cianjur meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Modus pemberangkatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) melalui jalur ilegal menjadi penyumbang terbanyak kasus trafficking.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan (DPPKBP) Kabupaten Cianjur, Esih Sukaesih, mengatakan bahwa hingga Agustus 2017, total kasus trafficking sudah mencapai 17 kasus, sementara tahun sebelumnya hanya 7 kasus.

“Ini baru sampai triwulan ketiga, ada kemungkinan terus bertambah hingga tiga bulan ke depan,” ujar dia, Minggu (20 Agusutus 2017).

Menurutnya, peningkatan kasus perdagangan manusia di Cianjur erat kaitannya dengan pemberangkatan tenaga kerja ke luar negeri. Banyak warga Cianjur, utamanya perempuan yang dijanjikan bekerja, malah diperdagangkan. Bahkan menurut Esih, beberapa di antaranya menjadi pekerja seks komersial.

“Dengan berbagai iming-iming, mereka jadi tertarik, padahal ketika berangkat, mereka tidak ke tempat yang dijanjikan, melainkan ke beberapa kota besar untuk diperjualbelikan.” 

Esih mengatakan, perlu ada perhatian dari semua lini supaya tidak lagi banyak warga Cianjur yang jadi korban trafficking dengan modus pemberangkatan TKI, apalagi moratorium masih berjalan.

“Makanya ketika ada yang berangkat harus diketahui oleh pemerintah di tingkat desa dan melalui jalur resmi dengan rekomendasi Disnakertrans. Jika perusahaan jasa TKI-nya tidak jelas, lebih baik tidak nekat berangkat,” imbaunya.

Peningkatan kasus trafficking juga dilaporkan oleh Kepala Bidang Advokasi dan Penanganan Perkara Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar. Laporan kasus trafficking di tahun ini, papar Lidya, mengalami peningkatan. Padahal sejak beberapa tahun terakhir, angkanya terus menurun.

“Sebelumnya terus menurun, sekarang malah naik lagi angkanya. Ada beberapa kemungkinan, kasusnya yang meningkat atau kesadaran warga yang melapor lebih tinggi.” 

Lidya mengakui munculnya moratorium pemberangkatan TKI membuat upaya trafficking naik, sebab calon TKI-nya sendiri yang mencoba berangkat menggunakan jalur ilegal.

Oleh karena itu Lidya memang perlu adanya edukasi dan sosialisasi yang lebih intens supaya tidak banyak lagi warga Cianjur yang menjadi korban trafficking. “Harus semua pihak yang turun tangan, tidak bisa satu pihak. Paling penting itu edukasi pada warganya sendiri,” ucapnya.

Sementara itu Ketua DPW Garnita Malahayati Partai Nasdem Provinsi Jawa barat, Yeni Nurawni Muchtar, mengatakan bahwa pemberdayaan terhadap perempuan juga penting untuk mengantisipasi trafficking di Cianjur. “Nanti P2TP2A yang bekerja langsung melakukan pembinaan terhadap warga,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, perempuan harus lebih diberi kesempatan berwirausaha, dengan begitu akan semakin banyak yang bisa berpenghasilan di daerahnya sendiri, bahkan lapangan pekerjaan bakal semakin terbuka lebar.

“Beri pelatihan usaha, atau lapangan kerja. Kalau mereka berpenghasilan di daerahnya sndiri, maka tidak akan ada yang tertarik oleh oknum pemberangkatan TKI ilegal atau pelaku trafficking,” pungkasnya. (isl)

Comments

comments