Jumlah Gang Rape Berlipat, Indonesia Surga Pedofilia

0
241

JAKARTA, patas.id – Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat adanya peningkatan yang signifikan dalam kasus gang rape atau pemerkosaan bergerombol di Indonesia, terutama untuk korban yang masih berusia di bawah umur.

Menurut catatan Komnas PA, pada tahun 2015 terdapat 44 kasus gang rape dengan 9 korban meninggal dunia. Jumlah tersebut meningkat tahun 2016 dengan 82 kasus gang rape dengan 11 korban meninggal dunia sementara pada Januari-Maret 2017 sudah ada 26 laporan kasus gang rape.

Menurut Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, mengungkapkan bahwa di antara para pelaku geng rape, sebanyak 16% merupakan anak berusia 14 tahun sementara pemicu kejahatan pemerkosaan yang mereka lakukan antara lain narkoba, minuman keras (miras), pornografi serta pornoaksi yang sering mereka tonton baik dari TV, video, maupun internet.

Selain gang rape, imbuh Aris, Indonesia bak surga pedofilia seperti pada kasus pedofilia di Bali, Jakarta dan Lombok. Pedofilia adalah kelainan seksual yang menjadikan pelakunya terobsesi melakukan dan melampiaskan hasrat seksualnya terhadap anak-anak. Selain melakukan kejahatan seksual secara langsung, pelaku pedofilia seringkali juga memuaskan nafsunya lewat menatap gambar atau foto.

“Komnas PA kerap mengimbau ibu-ibu untuk tidak mudah mengekspose foto anak karena bisa jadi bahan pelaku pedofilia. Indonesia ini masih permisif, kekerasan seksual dimaknai kalau ada penetrasi. Tapi, bagi pedofil, melihat foto anak kecil saja sudah bisa memuaskan kebutuhan mereka.”

Dilansir dari website Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai mengatakan bahwa dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak dalam menghadapi kekerasan seksual anak, baik berupa gang rape maupun pedofilia. Dalam hal ini semua pihak harus saling menguatkan. Dengan demikian, tidak banyak lagi anak Indonesia yang menjadi korban kekerasan seksual.

“LPSK siap bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk, Komnas PA karena LPSK bertugas memberikan layanan dan bantuan yang dibutuhkan korban kekerasan seksual, seperti bantuan medis, psikologis dan psikososial.”

Selain itu, Semendawai juga mengingatkan aparat penegak hukum untuk bersungguh-sungguh dalam menanggapi dan menangani kasus kekerasan seksual anak. Sebab, banyak kejadian dimana setelah melaporkan kejadian yang menimpanya, malah mereka yang merasa terintimidasi. Kondisi demikian akhirnya membuat korban kekerasan seksual menjadi takut untuk melapor. (cho)

Comments

comments