Belum Berizin, Pengembang Perumahan Sindanglaka Main Gali-Urug Saja!

0
261

CIANJUR, patas.id – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PSTP) Kabupaten Cianjur menghentikan proses cut and fill alias gali dan urug lahan yang diduga akan dijadikan perumahan di wilayah Desa Sindanglaka Kecamatan Karangtengah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Saat sidak dilakukan oleh Dinas Penanaman Modal, nampak lahan di desa tersebut tengah digali dan diurug menggunakan backhoe. Bahkan terlihat sudah ada beberapa bagian yang dipatok per kotak.

Kepala Bidang Data Sistem Informasi DPM-PTSP Kabupaten Cianjur, Muzani Saleh, mengatakan, sidak di jalan Aria Wiratanudatar (sebelum pengisian bahan bakar Sindanglaka) tersebut berawal dari laporan warga yang menyatakan adanya aktivitas gali urug lahan.

“Setelah kami tindaklanjuti, ternyata memang ada aktivitas cut and fill. Berdasarkan informasi, lahan tersebut bakal dijadikan perumahan. Makanya kami hentikan aktivitasnya,” ujar Muzani, Rabu (29 Maret 2017).

Menurutnya, selain aktivitas tersebut belum berizin, alih fungsinya pun tidak boleh dilakukan sebab moratorium alih fungsi lahan untuk perumahan, garmen, dan industri di Cianjur masih berlaku.

“Belum ada pengajuan izin. Dilihat pun ini lahan sawah yang dialihfungsikan, padahal masiha da moratorium yang tidak hanya berlaku di Sukaluyu dan Ciranjang, tapi se-Kabupaten Cianjur.”

Selain di Sindanglaka, terdapat lahan lain yang juga dialihfungsikan juga di Jalan Raya Bandung tepatnya di Kecamatan Sukaluyu. Namun Muzani mengaku baru akan menyidak lokasi tersebut dalam waktu dekat. “Ada beberapa informasi yang didapat, tapi hari ini baru yang di Sindanglaka yang kami datangi. Terbukti ada aktivitas dan tak berizin,” paparnya.

Muzani menjelaskan bahwa aktivitas gali-urug tersebut akan dihentikan hingga pihak pengembang atau pemilik lahan memproses izinnya. “Kalau ada aktivitas lagi tanpa izin maka akan kami tindak lebih tegas lagi, bukan hanya peringatan dan pemberhentian cut and fill,” tegasnya.

Sementara itu Roni Tri Septian, pihak yang menyewakan backhoe, mengaku dirinya hanya diminta untuk melakukan cut and fill oleh konsultan. Namun dia mengatakan tidak tahu jika lahan seluas 1,3 hektar yang diurug belum berizin.

“Saya hanya diminta mengurug lahan ini. Waktunya lima hari, sekarang hari keempat. Jika memang dari Dinas tidak boleh, maka kami tak akan melanjutkan. Ini juga jadi alasan kuat kepada konsultan karena sudah ada larangan, jadi kami tak disalahkan kalau berhenti.”

Menurut Roni, dia akan menghentikan aktivitas cut and fill dan menarik backhoe hingga ada kejelasan terkait perizinannya. (isl)

Comments

comments