Triwulan Pertama 2017, P2TP2A Telah Terima Beberapa Konsultasi Pedofil

0
261

CIANJUR, patas.id – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur mencatat telah mendapatkan konsultasi dari korban pedofil. Para orangtua pun diharapkan menjaga anak–anaknya dari lingkungan terdekat, sebab pelaku kekerasan seksual terhadap anak juga banyak dilakukan oleh orang terdekat di keluarga.

Kepala Bidang Advokasi dan Penanganan Perkara P2TP2A Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar, mengatakan, selama triwulan pertama di 2017, pihaknya belum mendapatkan pengaduan resmi dari korban ataupun keluarganya terkait kasus pedofil. “Laporan resmi belum ada, tapi untuk konsul ada bebeberapa,” ujar dia, Minggu (26 Maret 2017).

Menurutnya, konsultasi yang masuk tersebut merupakan orangtua dari anak yang menjadi korban kekerasan seksual, mulai dari umur 7 tahun sampai 12 tahun.

“Beberapa masih di bawah umur, bahkan masih tujuh tahun sudah jadi korban kekerasan seksual. Selebihnya ada laporan di usia remaja, yakni dari rentang umur 17 sampai 25 tahun.”

Lidya mengungkapkan, kebanyakan dari pelaku kekerasan seksual terhadap anak, baik pedofilia ataupun sodomi ialah orang terdekat dari keluarga, seperti ayah tiri, saudara, tetangga, hingga teman terdekat. Hal itu dikarenakan orangtua tidak merasa khawatir ketika anak dekat dengan orang terdekat, padahal kesempatan itu membuat pelaku dengan mudah melakukan aksinya.

“Jadi ini anggapan yang salah, orangtua membebaskan anak bersama orang terdekatnya, padahal bisa saja sewktu-waktu menjadi korban kekerasan seksual, bahkan bagi anak di bawah umur. Jadi terhadap siapapun harus waspada.”

Selain itu, munculnya pengungkapan kasus grup pedofil di media sosial harus membuat orangtua lebih waspada. Pasalnya para pelaku pedofil sudah membentuk kelompok yang memungkinkan mereka lebih sering melakukan aksinya.

“Makanya ketahanan keluarga penting di saat seperti ini, jangan sampai lengah. Lindungi anak dari kejahatan seksual, minimalnya ajarkan anak untuk berani menolak dan berteriak ketika bagian tubuh terlarangnya dipegang oleh orang lain.”

Selain itu, lanjut dia, para orangtua harus berani melaporkan kepada pihak yang berwenang ketika anaknya jadi korban kekerasan seksual, baik yang dikategorikan pedofil, sodomi, atau lainnya. “Beranikan lapor, jangan takut ancaman pelaku. Ini dilakukan supaya ada efek jera bagi pelaku dan pembelajaran bagi warga untuk mengantisipasi hal serupa,” pungkasnya. (isl)

Comments

comments