Pengacara PTHKT: Ini Gugatan Perdata, Jangan Giring ke Arah SARA

0
262

CIANJUR, patas.id – Perkumpulan Tionghoa Hwee Kuan Tjianjur (PTHKT) menyayangkan dengan munculnya isu yang menyangkut suku agama ras dan antar golongan (SARA) serta penyebaran paham komunisme lantaran adanya gugatan Wisma Karya.

Untuk diketahui, isu SARA tersebut muncul saat sidang pembacaan gugatan sengketa Wisma Karya oleh Haryadi Atmaja sebagai ahli waris terhadap Pemkab, KONI, dan PTMSI Kabupaten Cianjur, Kamis (9 Februari 2017) lalu. Para pendemo yang menolak adanya gugatan tersebut menyuarakan jika gugatan tersebut berlanjut maka ada kemungkinan muncul kebencian terhadap etnis tionghoa di Cianjur.

Selain itu, kabar akan dibangunnya yayasan pendidikan Tionghoa di Wisma Karya juga disinyalir menjadi sarana penyebaran paham komunisme. Apalagi beberapa waktu ini paham komunisme menjadi hal yang tengah ramai diperbincangkan karena kekhawatirkan kemunculannya. Pasalnya pahama tersebut dinilai berseberangan dengan ideologi Republik Indonesia yang berpedoman pada Pancasila.

Namun, Kuasa Hukum Haryadi Atmaja (penggugat) yang berasal dari PTHKT, Inu Jajuli, membantah adanya isu jika kliennya disangkut pautkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) atau paham komunisme. Menurutnya, pihaknya merupakan keturunan dari pendukung Kou Min Tang yang nasionalis. Bahkan merupakan musuh dari komunis.

“Klien kami ini keturunan dari Taiwan dengan latar belakang pendukung nasionalis dan musuh komunis. Perlu diperjelas lagi bahwa komunis itu munculnya di RRC (Republik Rakyat Cina), sehingga memang harusnya tak disangkutkan dengan masalah komunisme.”

Inu menambahkan, yayasan atau sarana pendidikan yang kabarnya akan didirikan di sana memang benar, namun dilakukan untuk turut mencerdaskan bangsa, bukan untuk memunculkan paham komunisme di Cianjur. “Klien kami merasa ada hak dari perkumpulan Tionghoa Hwee Kuan atas tanah dan bangunan itu sejak 1913. Di sana akan didirikan sarana pendidikan bahasa Indonesia, Inggris dan Mandarin. Mau tidak mau harus diakui juga bahasa Mandarin merupakan salah satu bahasa yang digunakan secara internasional di samping bahasa Inggris,”¬†paparnya.

Inu menyesalkan pihak-pihak yang memunculkan isu anti warga keturunan Tionghoa dan komunisme di Cianjur. Hal itu dikhawatirkan menimbulkan gejolak, apalagi selama ini warga keturunan dan pribumi selalu berjalan beriringan.

“Saya harap semua menghargai proses pengadilan yang sedang berjalan. Ini murni gugatan perdata, jangan giring ke arah yang berbau SARA.”

Seperti yang diketahui, belum lama ini mencuat gugatan kepemilikan Wisma Karya. Penggugat dan Tergugat mengaku saling memiliki bukti kuat kepemilikan atas gedung yang saat ini digunakan sebagai sarana berlatih atlet tenis meja. Gugatan baru berjalan hingga pembacaan gugatan dan jawaban dari tergugat. Upaya mediasi pun sempat gagal lantaran kedua pihak masih belum mendapatkan titik temu yang adil. (isl)

Comments

comments