Taruna STIP Tewas Dianiaya Seniornya

0
247

JAKARTA, patas.id – Kasus penganiayaan taruna senior kepada junior kembali terulang di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) yang berada di bawah naungan Kementrian Perhubungan. Kali ini korban tewas bernama Amirulloh Adityas Putra (18 tahun), warga RT07/RW14 Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta.

Penganiayaan bermula saat para pelaku selesai latihan drum band, Selasa (10 Januari 2017) sore, sekitar pukul 17.00 WIB. Salah seorang pelaku penganiayaan, Sisko Mataheru (19 tahun), taruna Tingkat II, mengajak ketiga kawannya yakni Willy Hasiholan (20 tahun), Akbar Ramadhan (19 tahun), dan Iswanto (21 tahun), untuk mengerjai junior tingkat 1.

Sekitar pukul 22.30 WIB, sebanyak 6 taruna junior dikumpulkan di Kamar M-205 lantai 2 Gedung Dormitory Ring 4 STIP, Jalan Marunda Makmur, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Selanjutnya, satu per satu taruna junior tersebut dipukuli pada arah perut, dada dan ulu hati dengan menggunakan tinju kosong secara bergiliran.

Saat korban Amirulloh dipukul oleh pelaku Willy, tiba-tiba korban ambruk tak sadarkan diri. Korban kemudian diangkat bersama-sama oleh para pelaku ke tempat tidur, lalu mereka menghubungi senior tingkat 4 kemudian ke pembina dan piket medis. Dokter STIP yang memeriksa korban menyatakan korban meninggal pada Rabu (11/1) sekitar Pukul 00.15 WIB hingga Pukul 01.45 WIB. Kejadian tersebut kemudian dilaporkan ke Kepolisian pada Pukul 02.00 WIB.

Akibat peristiwa tersebut, Kepala STIP, Kapten Weku F Karuntu, langsung dicopot dari jabatannya. Menurut Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, keputusan pencopotan diambil untuk mempermudah pelaksanaan tugas tim investigasi internal. Kemenhub pun telah menyerahkan penanganan kasus ini kepada kepolisian untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.

Atas perbuatannya, para pelaku dijerat pasal berlapis, pasal berlapis, di antaranya Pasal 170 KUHP serta Pasal 170 Subsider 351 Ayat 3 KUHP dengan ancaman hukuman di atas 20 tahun penjara. Kasus tewasnya taruna di STIP akibat penganiayaan bukan yang pertama kalinya terjadi. Kasus terakhir adalah tewasnya Dimas Dikita Handoko, yang tewas dianiaya oleh tujuh taruna tingkat dua pada April 2014 lalu karena dianggap tak respek pada senior STIP. (cho)

Comments

comments