Tradisi Arak Maling di Gili Trawangan

0
238

LOMBOK, patas.id – Gili (pulau, red) Trawangan yang terletak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, merupakan salah satu pulau tujuan wisata yang dikenal indah, aman serta nyaman bagi wisatawan asing maupun lokal. Di sini, kasus kejahatan sangat jarang terjadi. Salah satu alasannya adalah tradisi arak maling yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Mengarak maling atau pelaku pelanggaran hukum lainnya sudah menjadi semacam konvensi di Gili Trawangan. Kepala Kantor Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Fauzal, mengatakan bahwa praktek mengarak pelaku kejahatan di Gili Trawangan tersebut sudah menjadi kesepakatan antara penduduk setempat dan polisi.

Namun rupanya tradisi tersebut tak hanya di Gili Trawangan. Masyarakat di Gili Meno dan Gili Air pun melakukan hal serupa. Ketiga pulau ini merupakan pulau tujuan wisata andalan di kawasan lepas air Lombok yang letaknya berdekatan. Di antara ketiga pulau tersebut, Gili Trawangan memiliki jumlah penduduk terbanyak, yakni sekitar 1.500 jiwa, serta memiliki luas pulau terbesar dengan panjang sekitar 3 kilometer dan lebar 2 kilometer.

Gili Trawangan direkomendasikan wisatawan-wisatawan asing sebagai surga bagi para bohemian. Selain pemandangannya indah, Gili Trawangan memiliki fasilitas lengkap dan memanjakan wisatawan, termasuk urusan keamanan.

Mengarak pelaku kejahatan merupakan tradisi yang tidak hanya berlaku bahwa penduduk setempat. Wisatawan baik lokal maupun asing pun mendapatkan perlakuan yang sama. Alasan utamanya adalah karena kehadiran polisi di ketiga pulau tersebut sifatnya hanya sementara. Oleh karena itu, masyarakat menciptakan “hukum” sendiri yang bisa membuat jera sekaligus sebagai peringatan bagi mereka yang ingin mencoba-coba melakukan kejahatan.

Di Gili Trawangan, bukanlah hal yang aneh melihat iring-iringan petugas berseragam berjalan di belakang pelaku kejahatan yang tertangkap. Pelaku kejahatan seperti maling, pemabuk, atau pencopet biasanya dikalungi karton besar bertuliskan jenis kejahatan yang dilakukan serta pesan singkat agar perbuatan tersebut tidak ditiru orang lain.

Tradisi mengarak ini, disukai atau tidak, dianggap efektif untuk memberi efek jera. Terbukti, catatan kejahatan di ketiga pulau ini sangat rendah. Bahkan, jika ada wisatawan yang barang, barang-barang yang hilang tersebut biasanya dikembalikan oleh orang yang menemukannya.

Fauzal menambahkan bahwa sebagian besar pelaku kejahatan yang diarak keliling kampung adalah penduduk setempat. Namun, sesekali ada juga wisatawan asing yang diarak dan dijadikan tontonan warga. Setelah dibawa berkeliling kampung, tersangka pelaku kejahatan kemudian diserahkan pada pihak berwajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.(cho)

 

 

Comments

comments