Antisipasi Kekeringan, Padi Usia 100 Hari Segera Dipanen

0
25

CIANJUR, patas.id – Dinas Pertanian Perkebunan Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur mengimbau petani segera memanen tanaman padi yang sudah berusia 100 hari ke atas. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gagal panen akibat intensitas sinar matahari terlalu tinggi dan potensi terjadinya penguapan.

“Tapi ini bukan panen dini karena usia tanaman padi sudah layak. Dalam kondisi intensitas penyinaran matahari yang relatif tinggi ini, kalau tanaman padi dibiarkan terlalu lama mengalami standing, maka bulir-bulir padi bisa rontok sehingga memicu potensi kehilangan. Tidak bisa dipanen,” ujar Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Perkebunan Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Dandan Hendayana, kepada wartawan, Rabu (7 Agustus 2019).

Secara teknis, lanjut Dandan, range usia tanaman padi menjelang panen di atas 100 hari hingga 105 hari, sudah bisa menghasilkan padi berkualitas. Ia mencontohkan, padi jenis Ciherang, optimalnya dipanen pada usia 112 hari.

“Tapi kurang dari usia 112 hari juga bisa (dipanen) manakala situasi dan kondisinya tidak mendukung seperti sekarang. Kalau menunggu harus 112 hari dengan intensitas matahari tinggi dan suhu penguapan tinggi, dikhawatirkan bulir padi tak bisa dipanen. Potensi kehilangannya pun relatif lebih tinggi,” jelas Dandan.

Di Kabupaten Cianjur lahan sawah yang terancam kekeringan selama Juni-Juli seluas 4.152 hektare dan sudah terdampak seluas 3.737 hektare. Lahan yang sudah terdampak itu rinciannya terdiri dari kekeringan ringan seluas 1.272 hektare, kekeringan sedang 979 hektare, kekeringan berat 889 hektare, dan puso 579 hektare. Kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya potensi hilangnya produksi tanaman padi sebanyak lebih kurang 11 ribu ton.

Sedangkan pada 2017 selama periode Juni-September seluas 360 hektare terdiri dari kekeringan ringan 277 hektare, kekeringan sedang 44 hektare, kekeringan berat 39 hektare, dan puso nihil. Sementara pada 2018 selama Juni-September seluas 668 hektare terdiri dari kekeringan ringan 606 hektare, kekeringan ringan 47 hektare, kekeringan berat 889 hektare, dan puso nihil.

“Terjadinya luasan lahan yang sudah terdampak kekeringan tentu saja memengaruhi produksi. Hitung-hitungan, dengan ekuivalensi per hektare rata-rata menghasilkan 5 ton, maka potensi kehilangan mencapai hampir 11 ribu ton. Ditambah yang puso mencapai hampir 3 ribu ton atau sekitar 2 persen dari target produksi,” jelas dia.

Tahun ini Kabupaten Cianjur menargetkan produksi padi sebanyak lebih kurang 977 ribu ton gabah kering giling (GKG). Pada semester pertama Januari-Juli, realisasi produksi baru mencapai 479.854 ton GKG.

“Saat ini terdapat 30 ribu hektare lahan sawah standing crop. Artinya, masih ada tanaman padi yang belum dipanen. Sekarang kami dituntut bagaimana caranya menyelamatkan lahan 30 ribuan hektare itu agar tak terdampak kekeringan hingga berpotensi puso,” ungkap dia.

Berbagai upaya yang dilakukan Dinas Pertanian Perkebunan Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur dan perangkat daerah lainnya bertujuan agar tingkat potensi kehilangan produksi bisa terus ditekan secara angka. Targetnya harus bisa menekan angka kehilangan hingga di bawah 2 persen.

“Jangan sampai hingga Desember nanti angka terkoreksi. Kita coba pertahankan tanaman padi yang standing crop ini agar jangan sampai terdampak kekeringan. Sehingga pada akhir tahun nanti, produksi yang dihasilkan tidak terganggu karena dampak yang ditimbulkan kekeringan tidak terlalu besar,” pungkasnya. (daz)

Comments

comments